Dakwah itu Mudah

menulislah, menulis tentang kebaikan, ini adalah sedekah

Keberkahan Menulis

Cara terbaik untuk mengekalkan usiamu adalah dengan menulis

Kebaikan yang berkembang

Menulis akan menjadikan engkau senantiasa dalam keberkahan, selama engkau menulis kebaikan

Jika Kau tak pandai menulis

Cukup Like kebaikan, engkau sudah bersama para penyeru kebaikan

Sahabat yang Dermawan

Setelah hijrah, jumlah kaum Muslimin di Madinah semakin bertambah banyak. Salah satu kebutuhan dasar yang mendesak adalah ketersediaan air jernih. Kala itu sumur terbesar dan terbaik adalah Bi'ru Rumah, milik seorang Yahudi pelit dan oportunis. Dia hanya mau berbagi air sumurnya itu secara jual beli. Mengetahui hal itu, Usman bin Affan mendatangi si Yahudi dan membeli 'setengah' air sumur Rumah. Usman lalu mewakafkannya untuk keperluan kaum Muslimin.

Dengan semakin bertambahnya penduduk Muslim, kebutuhan akan air jernih pun kian meningkat. Karena itu, Usman pun akhirnya membeli 'sisa' air sumur Rumah dengan harga keseluruhan 20.000 dirham (kl. Rp. 5 M). Untuk kali ini pun Usman kembali mewakafkannya untuk kaum Muslimin.

Singkat cerita, pada masa-masa berikutnya, wakaf Usman bin Affan terus berkembang. Bermula dari sumur terus melebar menjadi kebun nan luas.

Kebun wakaf Usman dirawat dengan baik semasa pemerintahan Daulah Usmaniyah (Turki Usmani).

Setelah Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan berjalan semakin baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma.

Kerajaan Saudi, melalui Kementrian Pertanian, mengelola hasil kebun wakaf Usman tersebut. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan.

Rekening atas nama Usman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf.

Dengan begitu 'kekayaan' Usman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi.

Di atas tanah tersebut, saat ini tengah dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari 'rekening' Usman.

Pembangunan hotel tersebut kini sudah masuk tahap akhir. Rencananya, hotel 'Usman bin Affan' tersebut akan disewakan kepada sebuah perusahaan pengelola hotel ternama.

Melalui kontrak sewa ini, income tahunan yang diperkirakan akan diraih mencapai lebih 50 juta Riyal (lebih Rp. 150 M). Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di 'rekening' Usman bin Affan.

Uniknya, tanah yang digunakan untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah atas nama Usman bin Affan.

14. Masya Allah, saudaraku, itulah 'transaksi' Usman dengan Allah. Sebuah perdagangan di jalan Allah dan untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun.....berapa 'keuntungan' pahala yang terus mengalir deras kedalam pundi-pundi kebaikan Usman bin Affan di sisi Allah Swt.

Saudaraku hikmah lain dari kisah diatas betapa disiplinnya pihak pengelola wakaf pemerintah Arab saudi, tidak merubah wakaf seseorang meskipun pewakaf sudah meninggal ribuan tahun sebelumnya, bahkan hasil dari tanah wakaf tersebutpun tetap digunakan sesuai peruntukannya dan tetap atas nama pewakaf,..... Subhanallah.

JS: Voa Islam

------------------

Allah berfirman, "Dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya." (QS al-Hadid: 7). Bahkan sebagian besar sahabat Nabi Muhammad saw adalah para saudagar kaya raya. Bahkan kekayaannya para sahabat jika diukur dengan nilai saat ini, jumlahnya sangat fantastis.

Namun mereka tak sembarangan menggunakan kekayaannya untuk urusan duniawi. Diriwayatkan, 10 nabi Muhammad saw dijamin masuk surga. Sembilan di antaranya diketahui sebagai saudagar kaya raya. Para sahabat Muhammad saw di bawah ini bahkan hampir menggunakan seluruh kekayaannya untuk kepentingan dakwah Islam saat itu. Berikut adalah 7 dari 9 nama sahabat Nabi Muhammad saw yang kaya dan dijamin masuk surga:

Kita boleh mengejar harta, tapi jangan letakan harta di hati kita, cukup di genggaman saja. Sebab harta dunia akan binasa tidak bisa kekal abadi seperti amal jariyah seorang muslim.

Utsman bin Affan, sahabat Nabi Muhammad saw yang termasuk as shabiqunal awwalun atau orang-orang yang pertama masuk islam ini dikenal sebagai saudagar kaya yang sangat dermawan.

Nama lengkap beliau adalah Utsman bin affan Al-Amawi Al-Quarisyi, berasal dari Bani Umayyah. Lahir pada tahun 574 M, kira-kira lima tahun lebih muda dari Nabi Muhammad saw.

Nama panggilannya Abu Abdullah dan mendapat gelarnya Dzunnurrain yang artinya pemilik dua cahaya. Gelar tersebut diberikan karena Utsman menikah dengan dua putri Nabi Muhammad, Roqqoyah dan Ummu Kultsum.

Utsman adalah seorang saudagar yang kaya dan terkenal akan kedermawanannya. Usahanya berdagang kain sukses dan menghasilkan keuntungan yang berlimpah. Namun kekayaannya ini tidak dihamburkannya untuk hal-hal yang tidak berguna. Beliau justru membelanjakan hartanya di jalan Allah, seperti membiayai kebutuhan umat dan untuk kemajuan Islam. Beliau juga memiliki kekayaan ternak yang melebihi orang Arab lainnya pada masa itu.

Di dalam buku berjudul "Utsman bin Affan: Si Super Dermawan" karya Nor Fadhilah dan diterbitkan oleh Diva Press, diceritakan tentang dua rahasia di balik kekayaan Ustman bin Affan yaitu sabar menjalani profesinya sebagai pedagang dan beryukur atas penghasilan yang didapat.

Utsman adalah seorang pedagang yang gigih dan tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Selain kaya, Utsman bin affan juga suka mendermakan hartanya misalnya saja dia rela menanggung pembiayaan perang sebesar 50 persen yang diambil dari harta kekayaanya dan juga dia berinisiatif memperindah Masjid Nabawi pada waktu itu. Rahasia kedermawanan Utsman bin Affan adalah keikhlasan dan tawakkal.

Semasa Nabi SAW masih hidup, Utsman pernah dipercaya oleh Rasulullah saw untuk menjadi Wali Kota Madinah, selama dua kali masa jabatan. Pertama pada perang Dzatir Riqa dan yang kedua kalinya, saat Nabi Muhammad saw sedang melancarkan perang Ghatfahan.

Utsman bin Affan adalah seorang ahli ekonomi yang terkenal, tetapi jiwa sosial beliau tinggi. Beliau tidak segan-segan mengeluarkan kekayaanya untuk kepentingan Agama dan Masyarakat umum.

Berikut ini adalah beberapa cara Utsman memanfaatkan harta kekayaannya:

1. Utsman bin Affan membeli sumur yang jernih airnya dari seorang Yahudi seharga 200.000 dirham atau lebih dari Rp 12 miliar yang kira-kira sama dengan dua setengah kilogram emas pada waktu itu. Sumur itu beliau wakafkan untuk kepentingan rakyat umum.

2. Beliau mendermakan 1.000 ekor unta dan 70 ekor kuda, ditambah 1.000 Dirham atau sama dengan lebih dari Rp 63 juta untuk perang Tabuk, nilainya sama dengan sepertiga biaya ekspedisi tersebut.

3. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Utsman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1.000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering.

Talhah bin Ubaidillah merupakan seorang peniaga kain yang berasal dari Makkah. Beliau kerap berniaga dan membawa barangan berharga di Syria.

Thalhah memang memiliki kelebihan dalam strategi berdagang, ia cerdik dan pintar, hingga dapat mengalahkan pedagang-pedagang lain yang lebih tua.

Dia juga memiliki kekayaan yang berlimpah yakni sebesar 700.000 Dirham atau Rp 44 miliar. Angka ini sama dengan sekitar 29,75 kilogram emas. Dikisahkan, harta tersebut dibagi-bagikannya kepada para sahabat Nabi saw yang berkekurangan.

Dia membagikan hartanya pada setiap piring kecil yang berisi uang dalam jumlah besar kepada para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Adapun sebagian kawan dekat beliau diberi jumlah yang lebih besar dalam nampan. Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang yang mendapatkan jatah satu nampan.

Bahkan dikisahkan Thalhah hampir lupa menyisakan uang itu untuk keluarganya sendiri. Beliau kemudian memberikan 1.000 dirham atau Rp 63 juta. Angka ini sama dengan 500 gram emas kepada istrinya Ummu Kutsum binti Abu Bakar Ash Shiddiq.

Nabi Muhammad saw sangat menyayangi Thalhah karena pengorbanannya yang besar. Untuk itu, Muhammad saw memberinya gelar Thalhah Al-Fayyadh atau Thalhah yang senantiasa mengalirkan banjir infak, Thalhah Al-Khair atau Thalhah si orang baik dan Thalhah Al-Jud atau Thalhah si dermawan.

Abdurrahman bin Auf merupakan sahabat Nabi Muhammad saw yang juga termasuk dalam mereka yang pertama kali masuk Islam atau As-Sabiqunal Aw-Walun. Abdurrahman terkenal sebagai pedagang sukses yang memiliki harta yang sangat melimpah.

Kedermawanan Abdurrahman terlihat di beberapa momen salah satunya Perang Tabuk. Perang itu melawan pasukan Romawi yang kuat. Untuk itu, diperlukan banyak biaya untuk bekal perang. Saat itu, Nabi Muhammad saw menganjurkan para sahabatnya untuk memberi sumbangan materi.

Menjawab seruan Abdurrahman akhirnya ikut menyumbang separuh dari hartanya sebanyak 4.000 dinar atau lebih dari 7 miliar dan setara dengan 1,7 kg emas. Melihat begitu banyaknya sumbangan Abdurrahman, Umar berkata, "Sungguh aku melihat Abdurrahman bin Auf telah berdosa karena telah menyumbangkan seluruh hartanya tanpa menyisakan untuk sanak keluarganya."

Rasulullah juga kemudian bertanya kepada Abdurrahman, "Apakah sudah ada yang engkau tinggalkan untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"

"Iya, aku tinggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak dari yang aku infakkan dan jauh lebih berharga," jawab Abdurrahman.

Rasul kembali bertanya, "Berapa jumlahnya?".

"Apa yang Allah dan Rasul-Nya telah janjikan berupa pahala rezeki dan kebaikan," jawab Abdurrahman.

Pada suatu hari, ia juga menjual tanah seharga 40.000 dinar atau lebih dari Rp 7 miliar (setara dengan 17 kilogram emas) dan kemudian uang itu dbagi-bagikannya kepada keluarganya dari Bani Zuhrah, kepada para istri Nabi, dan untuk kaum miskin.

Tak hanya itu, dia menyerahkan 500 ekor kuda untuk perlengkapan bala tentara Islam. Menjelang wafatnya, ia berwasiat 50.000 dinar atau Rp 95 miliar untuk jalan Allah. Dia juga membagikan uang masing-masing 400 dinar kepada setiap orang yang ikut berperang Badar dan masih hidup.

Total kekayaannya saat wafat seperti dikutip dari Ibn Hajar adalah mencapai 3,2 juta Dinar yang sama dengan sekitar Rp 6,2 triliun. Sementara versi Ibn Katsir, Abdurrahman meninggalkan kekayaan berupa 1.000 ekor unta, 100 ekor kura, dan 3.000 ekor kambing. Ditambah dengan setiap istrinya yang memperoleh 320.000 Dinar atau ebih dari Rp 613 miliar sehingga jika ditotal maka peninggalan kekayaannya mencapai sekitar Rp 4 triliun.

Sad ibn Abi Waqqash merupakan paman Nabi Muhammad saw yang juga termasuk golongan As-Sabiqunal Aw-Walun. Muhammad saw begitu bangga pada sosok pamannya ini yang penuh keberanian dan kekuatan.

Sad berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi oleh orangtuanya. Dia juga diketahui sangat membenci agamanya sebelum Islam yang menyembah berhala di Mekah. Kemudian beliau menggunakan harta kekayaannya untuk berdakwah bersama Nabi Muhammad saw.

Setelah meninggal, Sad meninggalkan harta yang sangat besar jumlahnya. Seperti yang dikutip dari Ibn Katsir, warisan Sad mencapai 250.000 Dirham atau sama dengan sekitar Rp 15 miliar.

Sad hidup hingga usianya menjelang delapan puluh tahun. Menjelang wafatnya, Saad meminta puteranya untuk mengafaninya dengan jubah yang ia gunakan dalam perang Badar. "Kafani aku dengan jubah ini karena aku ingin bertemu Allah SWT dalam pakaian ini," ujar Sad.

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah setelah Abu Bakar. Dikenal sebagai pemimpin yang kuat, di masa kepeimpinannya, Umar berhasil mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia. Selain dikenal sebagai sosok yang kuat, Umar juga sangat dikagumi karena hidupnya yang sederhana.

Bahkan dikisahkan, tidurnya hanya beralaskan tikar atau batu bata di bawah pohon kurma. Beliau juga tak pernah makan hingga kenyang karena demi menjaga perasaan rakyatnya. Beliau juga pernah menolak gajinya dan menyerahkannya kepada rakyatnya yang miskin. Namun, kemudian Muhammad saw meminta Umar mengambil gaji tersebut, baru disedekahkan.

Padahal, Umar sungguh kaya raya dengan harta melimpah. Dia menggunakan sebagian besar hartanya untuk kepentingan dakwah dan memajukan Islam. Dikisahkan, setelah meninggal, beliau mewariskan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang yang satunya diperkirakan bernilai Rp 160.000 juta sehingga total peninggalannya mencapai sekitar Rp 11 triliun.

Menurut perhitungan Fikih Ekonomi Umar RA, setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta. Dengan begitu berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar per bulan. Perhitungan ini menggunakan konversi dengan harga Dinar Rp 1,2 juta. (detik.com)

Jujur dalam Perspektif Islam

Kejujuran dalam islam atau dikenal dengan istilah As-Shidqu ialah kesesuaian pembicaraan dengan kenyataan menurut keyakinan orang yang berbicara, As-Sidqhu ini kebalikan dari Al-Kadzibu (bohong). Ada yang mengatakan As-Shidqu ialah kesesuaian ucapan hati dengan sesuatu yang dikabarkan (dhahirnya) secara bersamaan, jika salah satu syarat tersebut hilang maka tidak dinamakan jujur secara sempurna. As-Sidqhu ini memiliki keutamaan yang agung, pahala yang besar/banyak, serta kedudukan yang mulia. Jujur dan benar di antara bagian dari Ash-Shidu. Dan bukti dari keutamaan Sidqhu, ketinggian kedudukannya, serta kemuliaan derajatnya ialah:

Sesungguhnya As-Sidqhu menjadi ciri khas ahlul ilmi dan takwa. Alloh ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sidiqin (benar), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Alloh, Alloh Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS. Al-Ahzab: 35).

Maka barang siapa yang memiliki seluruh sifat yang agung ini, bahkan telah menjadi pakaian dan perhiasannya maka benar-benar ia telah beruntung. Kita berdoa kepada Alloh ta’ala semoga Dia menjadikan kita termasuk dari mereka.

Alloh ta’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin agar terus bersama orang-orang yang jujur (shiddiqin) dan menetapi kejujuran dalam setiap keadaannya. Kejujuran adalah jalan keselamatan dari kehidupan dunia dan adzab akhirat. Alloh ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang sidiqin”. (QS. At-Taubah: 119).

Termasuk bukti keutamaan kejujuran dan orang-orang yang benar adalah jeleknya tempat kembali bagi para pembohong, dan sesungguhnya bohong adalah bagian dari sifat orang munafik Naudzu billahi.

Dalam shahih Bukhari dan Muslim disebutkan, dari Abdullah bin Amrradhiyallahu’anhu bahwasanya Nabi sholallohu alaihi wassalam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berbicara selalu bohong, jika berjanji menyelisihi, dan jika dipercaya khianat”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat yang lain di sebutkan: “Empat perkara, barang siapa dalam dirinya terdapat hal itu maka dia adalah orang munafik tulen, dan barang siapa yang memiliki salah satu darinya, berarti dalam dirinya terdapat sifat orang munafik hingga ia meninggalkannya… (kemudian di sebutkan diantaranya, yaitu; bohong)”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Kejujuran Dalam Islam

Jujur dalam islam adalah jalan Al-Bir (kebaikan) dan jalan surga, demikian juga sebaliknya bohong adalah jalan kedzaliman dan neraka –Naudzubillahi-. Dalam shahih Bukhori dan Muslim di sebutkan, dari Nabi sholallohu alaihi wassalam beliau bersabda:“Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan menunjukkan kepada surga, dan sesungguhnya seorang laki-laki benar-benar telah jujur hingga ia di catat di sisi Allah sebagai orang jujur. Sesungguhnya kebohongan itu menunjukkan kepada kedzaliman. Dan sesungguhnya kedzaliman itu menunjukkan kepada neraka, dan sesungguhnya seorang laki-laki telah berbuat dusta hingga ia I catat disisi Allah sebagai pendusta”.

Medan Kejujuran

Medan perbuatan jujur yang paling utama ada tiga, yaitu:

  • Jujur dalam niat, yakni kemurnian niat dan benarnya azimah / tekad, dan tetapnyairodah / kehendak.
  • Benar dalam ucapan yakni hanya mengucapkan kebenaran dan membuang kebatilan, laghwu dan lahwu (sia-sia dan tiada guna) yang diharamkan.
  • Benar dalam amal yakni dengan menyesuaikan ucapan dengan perbuatan, sedang persesuaiannya adalah dengan petunjuk Kitabullah dan Sunnah Rasulullah sholallohu alaihi wassalam.
  • Kapan saja seorang hamba mampu merealisasikan kejujuran dalam ketiga medannya (yang tersebut diatas) dengan sempurana dan paripurna maka dia tercatat sebagai bagian orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan kehidupan dunia ketika itu baginya tidak lain hanya sebatas apa yang diraih oleh seorang musafir, dan hanya sesuatu yang sudah menjadi milik manusia / berada ditangan mereka.

    Berikut ini akan kami bahas ketiga medan jujur tersebut dengan secara rinci :

  • Benar/jujur dalam niat dan kehendak (tujuan). Benar dalam niat dan tujuan menuntut keikhlasan niat hanya karena Allah ‘azzawajall, niat dalam berdakwah dan dalam seluruh ketaatan dan pendekatan diri kepada-Nya. Janganlah seseorang melakukan ibadah untuk mencari kedudukan, pujian atau pangkat dan derajat. Kapan saja noda-noda niat ini masuk dalam dirinya maka keluarlah ikhlas darinya yang menjadi syarat diterimanya sebuah amal, tetapi sebaliknya, kapan saja kejujuran dalam niat dan tujan telah terealisasikan dan keikhlasan telah diwujudkan, maka hal itu akan membuahkan tekad yang benar dan kehendak (iradah) yang lurus, dan jadilah seseorang yang benar dan jujur, tidak memperlambat dalam melaksanakan tugas mentransfer kebenaran dan kebaikan kepada manusia dengan ikhlas hanya mencari ridho Alloh dan negeri akhirat, dia akan terus belajar dan senantiasa mencari kebenaran dan kejujuran dimanapun ia berada.
  • Jujur dalam ucapan. Jujur dalam ucapan ini menuntut seseorang agar tidak mengatakan kebatilan apapun bentuknya, baik itu dusta, mencacat, mencela, nelaknat, ucapan keji, ghibah, namimah (menyebar isu), ataupun ucapan dusta. Dan secara global, seorang muslim adalah manusia yang paling jauh dari bahaya-bahaya lisan, dan memang seperti inilah hakekat kehidupan muslim sejati.
  • Sedangkan jujur dalam amal ialah menyesuaikan perkataan dan perbuatan kepada kebenaran yang di serukan. Dan bahasan ini telah dijelaskan dalam mabhats beramal dengan ilmu.
  • PENGARUH KEJUJURAN DI MASYARAKAT.

    Jujur banyak menyimpan pengaruh yang baik dalam kehidupan social masyarakat, diantaranya ialah:

  • Bukan hal yang samar lagi bahwa kejujuran memiliki pengaruh yang dalam bagi perjalanan hidup seorang muslim, perangainya, dialeknya, dorongan perasaannya, semua itu akan berbekas pada orang-orang disekitarnya, dan meninggalkan kesan yang dalam terhadap kebenaran pemikiran dan prilakunya..
  • Nabi sholallohu alaihi wassalam selalu berbicara dengan orang-orang yang ditemuinya, beliau bersabda: “Demi Allah hal ini bukanlah suatu kebohongan dan bukan pula pembicaraan yang dusta”. Maka seorang muslim yang emncintai Rosululloh dituntut agar jujur dalam pembicaraan, perbuatan dan niat.

  • Jujur menyimpan pengaruh yang baik dalam menjinakkan hati, tolong menolong, berkasih sayang dan mengikat hati, sebaliknya kebohongan akan menanamkan kedengkian, menghapus kepercayaan dan menumbuhkan keraguan sebagai akibat dari tindakan berpura-pura dan tidak tetap yang senantiasa telah menjadi karakter para pembohong. Dari sini, maka tuntutan kejujuran ialah meninggalkan seluruh bahaya lisan, seperti meremehkan orang lain baik dengan isyarat maupun ucapan, menyebar isu bohong, dan banyak bertanya yang tidak ada manfaatnya. Ketika hati telah terpaut, bersih dan menyatu dalam mahabbatullah, maka ketika itu nasehat-menasehati mampu berjalan dalam masyarakat sebagaimana aliran air dalam tanaman, yang selanjutnya akan menumbuhkan kehidupan, perkembangan dan kelanggengan. Dan akan tumbuh pula dalam bangunan masyarakat itu pohon iman yang tali temalinya terikat kuat dan bendera kejayaannya akan berkibar tinggi.
  • Kejujuran akan menanamkan kepercayaan dalam jiwa, ketentraman, kelapangan dan kasih sayang (kelemah lembutan), sehingga manusia menjadi bergantung kepada para da’i yang jujur dan benar (niatnya), mereka mempercayainya, dan merasa aman disisinya. Ikatan yang kuat ini, yang terjalin antara sesama muslim adalah faktor utama bagi kesuksesan sebuah dakwah, dan yang demikian itu tidak akan terwujud kecuali dengan kejujuran. Berbeda dengan kedustaan yang menanamkan dalam jiwa benih-benih keraguan, kekurangan kepercayaan, dan kewaspadaan. Maka akhlak pendusta bukanlah sesuatu yang disukai oleh manusia dan dianggapbaik oleh mereka.
  • Selagi manusia telah percaya pada seorang seseorang karena kejujurannya maka mereka akan membuka hati untuknya, dan mereka mau mendengarkan pembicaraannya, dan menerima wejangan, nasehat, petunjuk dan penjelasan yang diberikan olehnya, mereka juga akan berbondong-bondong menemuinya untuk bertanya (tentang masalah yang dihadapinya) dan meminta fatwa kepadanya. Tercapainya hubungan antara da’i dan mereka (mad’u) adalah nikmat yang tidak bisa diukur dengan harga apapun, dan tidak bisa diraih kecuali dengan keutamaan Allah, kemudian dengan kejujuran, bersihnya dada, dan keburukan amal (perbuatan) dan akhlak.

    JANJI ALLOH TERHADAP ORANG-ORANG YANG JUJUR.

  • Menjadi pendamping para Nabi alaihimus salaam
  • Firman Alloh;Artinya:”Dan barangsiapa yang mentaati Alloh dan Rosul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Alloh, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh, mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. An-Nisaa’ [4]: 69)

  • Memasukkannya ke Surga.
  • Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:

    (( عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يُصَدقُ وَيَتَحَّرَى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا ))

    “Hendaklah kalian (berbuat) jujur!. Sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukkannya ke Surga. Dan senantiasa seorang (berbuat) jujur dan menjaga kejujurannya hingga ditulis disisi Alloh sebagai Ash-Shiddiq (orang yang jujur).(HR. Muslim: 4721)

  • Menenangkan hati.
  • Hasan Bin Ali rodhiallohu anhuma berkata:

    حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (( دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَالَا يَرِيْبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ، وَ الكَذْبُ رِيْبَةٌ ))

    “Aku hafal dari Rosululloh sholallohu alaihi wassalam: “Tinggalkanlah perkara yang meragukanmu kepada perkara yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan, dan bohong adalah kecemasan”. (lihat Shohih Jami’: 3377)

  • Membuat niat lebih besar.
  • Rosululloh sholallohu alaihi wassalam bersabda:

    (( مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ، بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ ))

    “Barangsiapa meminta kepada Alloh mati syahid dengan jujur, Alloh angkat dia ketingkatan orang-orang yang syahid”. (HR. Muslim: 1773)

  • Mendapatkan berkah.
  • (( البَيْعَانِ بِالخِيَارِ مَالَمْ يَتَفَرَّقَا، فَإِنْ صَدَقَا وَ بَيَّنَا بُوْرِكَ لَهُمَا فِيْ بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَ كَذَّبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا ))

    “Penjual dan pembeli (memiliki) pilihan sebelum mereka berdua berpisah, jika berdua berkata jujur dan menjelaskan (kekurangannya) maka diberkahi jual beli mereka. Dan jika berdua menyembunyikan (kekurangan) dan berbohong maka dihapus keberkahan jual beli mereka berdua”.(HR. Bukhori: 1937)

    MACAM-MACAM KEJUJURAN

    Ibnu Qoyyim rohimahulloh berkata: “Jujur tiga (macam): perkataan, perbuatan dan keadaan”.

  • Jujur dalam perkataan: lurusnya lisan pada perkataan seperti lurusnya tangkai diatas pangkalnya.
  • jujur dalam perbuatan: lurusnya perbuatan-perbuatan diatas perintah dan Ittiba’ seperti lurusnya kepada diatas badan.
  • Jujur dalam keadaan: lurusnya perbuatan hati dan anggota badan diatas keikhlasan.
  • PENGARUH JUJUR TERHADAP KEKUATAN IMAN DAN KEBANGKITAN UMMAT.

    Jujur adalah salah satu tanda keimanan, petunjuk kuat adanya iman dalam hati pelakunya, bukti murni atas kehidupannya. Tidak ada seorang muslim naik ketingkatan jujur kecuali hal itu baik baginya dan mewajibkan pujian dan pahala yang besar.

    Alloh ta’ala berfirman:

    Artinya:”Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya). Supaya Alloh memberikan balasan kepada orang-orang yang benar (jujur) itu Karena kebenarannya (kejujurannya), dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima Taubat mereka. Sesungguhnya Alloh adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33]: 23-24)

    Ayat ini turun pada Anas bin Nadhor. Diriwayatkan dalam Bukhori dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: pamanku Anas bin Nadhor tidak hadir perang badar, tatkala beliau datang berkata: “Aku telah absen awal peperangan Rosululloh memerangi orang-orang musyrik, kalau Alloh ta’ala menghadirkanku perang, sungguh Alloh melihat apa yang akan aku perbuat. Tatkala datang perang uhud, orang-orang berlarian dan dia berkata: “Ya Alloh sesungguhnya aku serahkan ini kepadamu dari apa yang didaangkan oleh mereka (Yakni orang-orang musyrik), dan aku meminta udzur kepadamu dari apa yang diperbuat mereka (orang-orang muslim), kemudian beliau berjalan dengan pedangnya dan bertemu dengan Sa’ad bin Mu’adz, lalu berkata: “Ya Sa’ad, demi jiwaku yang ada ditangannya sesungguhnya aku mencium bau surga dibawah Uhud. Bau surga!

    Sa’ad berkata: “Aku tidak mampu Ya Rosululloh apa yang dia perbuat”.

    Anas berkata: maka kami temukan dia diantara mayat-mayat dengan 80 lebih luka dari pukulan pedang, tusukan tombak, lemparan anak panah. Sungguh mereka telah membalas dengan semisalnya”.

    Dia berkata: “dan kami tidak mengetahuinya hingga saudara perempuannya mengetahui ruas-ruas jariya. Anas berkata: “maka kami berkata: “Turun ayat ini:

    Padanya dan pada teman-temannya.

    Alloh ta’ala berfirman:

    “Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). apabila Telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). tetapi Jikalau mereka benar ( jujur imannya) terhadap Alloh, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka”.(QS.Muhammad [47]: 21)

    Maksudnya jika mereka jujur kepada Alloh ta’ala dalam keimanan, maka hati mereka sesuai dalam hal itu kepada lisan mereka.

    Alloh ta’ala Paling Jujur dari Orang-Orang Yang Jujur.

    Tiada didunia dan di langit orang yang paling jujur dari Alloh ta’ala. Jika Alloh ta’ala berfirman maka firman adalah kebenaran dan kejujuran. Maha suci Alloh terhindar dari perkataan bohong, bathil dan tidak berguna.

    Dan begitu juga dalam setiap apa yang telah disyari’atkan adalah kebenaran baik berhubungan dengan agama atau dunia, baik yang berhubugan dengan perkara yang lalu, sekarang, atau mendatang.

    Ketahuilah, bahwa istilah jujur, berlaku untuk beberapa makna, di anataranya:

  • Jujur dalam perkataan.
  • Setiap orang haruslah menjaga setiap pembicaranya, tidak berbicara kecuali yang benar dan berbicara secara jujur. Makna jujur dalam pembicaraan merupakan jenis jujur yang paling jelas dan paling terkenal. Seseorang juga harus menghindari pembicaraan yang dibuat-buat, karena hal ini termasuk kedalam jenis dusta, kecuali ada keperluan yang mendorongnya berbuat seperti itu dalam keadaan-keadaan tertentu, yang dengannya dapat mendatangkan kemaslahatan.

  • Jujur dalam niat dan kehendak
  • Jujur dalam niat dan kehendak ini, maknanya di kembalikan kepada sikap ikhlas. Jika amalnya ternodai oleh nafsu, maka gugurlah kejujuran niatnya, dan pelakunya dapat di kelompokkan sebagai orang yang berdusta, seperti yang di sebutkan dalam suatu hadits tentang tiga orang, yaitu: orang yang berilmu, seorang qori’ (pembaca Al-Qur’an), dan seorang mujahid yang ikut berperang. Pembaca Al-Qur’an berkata: “Aku sudah membaca Al-Qur’an hingga khatam.” Dustanya itu terletak pada kehendak dan niatnya, bukan pada bacaanya. Begitu pula yang terjadi pada dua orang yang lainnya (seorang qori’ dan seorang mujahid).

  • Jujur dalam hasrat dan pemenuhan dari hasrat itu
  • Contoh pertama bagi pemaknaan jujur dalam hal ini, adalah seperti orang yang berkata: “Jika Alloh mengkaruniakan harta benda kepadaku, maka aku akan menshodaqohkan semuanya”. Boleh jadi, hasrat ini jujur, namun bisa jadi ada keragu-raguan di dalamnya.

    Contoh yang kedua bagi pemaknaan jujur dalam hal ini, seperti jujur dalam hasrat dan berjanji untuk diri sendiri. Sampai disini tidak ada hal yang berat dan sulit. Hanya saja, hal ini perlu di buktikan jika benar-benar terjadi, apakah hasrat itu benar adanya, ataukah justru dia akan lebih di kuasai oleh nafsu. Karena itu Alloh ta’ala berfirman:

    “Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Alloh”. (QS. Al-Ahzab: 23).

  • Jujur dalam amal
  • Jujur dalam amal disini, berarti harus ada keselarasan antara yang abstrak dan juga yang konkrit, supaya amal-amalnya yang zhahir tidak terlalu memperlihatkan ke khusyuan atau sejenisnya, dengan mengalahkan apa-apa yang ada di batinnya. Tetapi bagi batin harus sebaliknya.

    Mutharrif berkata: “Jika yang tersembunyi di dalam batin seseorang, selaras dengan apa yang terlihat, maka Alloh berfirman: “Inilah hamba-Ku yang sebenarnya”.

  • Jujur dalam berbagai masalah
  • Ini merupakan derajat jujur yang paling tinggi, seperti jujur dalam rasa takut, berharap, zuhud, ridho, cinta, tawakkal dan lain-lainnya. Semua masalah ini memiliki prinsip-prinsip yang menjadi dasar di gunakannya berbagai istilah tersebut, yang juga mempunyai tujuan dan hakikat. Orang yang jujur dan mencari hakikat, tentu akan mendapatkan hakikat itu. Alloh ta’ala berirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Alloh dan Rosul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh. mereka Itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujuraat: 15).

    jejak Sumber : hasmidepok.org

    Beginilah Cara Berdakwah Aktivis Dakwah Malaysia di Pedalaman Sabah

    image

    SETELAH 12 tahun berdakwah dan membina beberapa suku di pedalaman Sabah, Malaysia, MAPIM (Majelis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia) telah mendirikan rumah “transit” muallaf Sabah di beberapa tempat, lokasinya di kaki Gunung Kinabalu, Provinsi Sabah.

    “Setiap daerah akan dibuat tempat transit muallaf, termasuk surau-surau. Di tempat inilah Tim MAPIM melakukan persiapan program. Dikarenakan kami lebih kepada misi kemanusiaan, yang hadir pun bukan hanya yang muslim saja, tapi juga orang-orang Kristen.

    Pada tahun 2003, kami membuat program ‘Ulurkan Semangkok Bubur (ayam, daging atau dikenal dengan bubur Lambok),” ungkap Aisyah binti Abdul Halim, pegiat dakwah dari MAPIM kepada Islampos belum lama ini di Depok.

    Dikatakan Aisyah, tim yang bergerak di pedalaman selalu berpindah-pindah tempat. Dalam seminggu, tim menyusuri hutan belantara dengan menggunakan kendaraan seadanya, dan membawa perbekalan. Sebagai catatan, dari Kota Kinabalu menelan waktu 4 jam menuju pedalaman, dilanjutkan lagi 2 jam dan seterusnya. Kondisi jalannya ada yang beraspal, ada pula yang tanah merah, tapi lebih banyak jalan yang tak beraspal.

    “Kami mengunjungi surau-surau yang tak ada jamaahnya. Kami jemput warga pedalaman untuk makan. Saat berkumpul dengan masyarakat muslim maupun non-muslim di pedalaman, kami tidak bercerita tentang Islam, tapi khazanah atau nilai-nilai murni kebaikan, dan mereka pun tertarik. MIsalnya, bagaimana menjaga hubungan yang baik dengan tetangga, atau memberi makan pada tetangga. Intinya kami lebih menyampaikan hal-hal yang lebih universal,” kata Aisyah.

    Melalui pendekatan kemanusiaan, nilai-nilai dan budaya seperti itu, diantara mereka ada yang tertarik dengan Islam. Akhirnya, pendekatan dakwah seperti itu membuahkan hasil.

    Tahun 2004, sebuah kampung yang semula hanya terdiri tiga keluarga muslim, kini Alhamdulillah, penghuni yang ada di kampung itu seluruhnya telah memeluk Islam.

    MAPIM kemudian membina mereka dengan menawarkan pendidikan untuk anak-anak untuk belajar di sekitar Sabah maupun luar Sabah. Bagi yang belum memiliki tanda pengenal (KTP), anak-anak hanya bisa belajar di madasarah di dalam Sabah. Sedangkan yang telah memiliki KTP, anak-anak akan dikirim belajar ke Kedah, Kelantan, hingga Kuala lumpur. Kini ada 54 anak yang disekolahkan (usia 7 tahun), sedangkan yang telah tamat belajar mencapai 100 orang lebih.

    “Orang tua mereka hidup miskin, tak mampu membiayai sekolah. Orang tua mereka sangat senang jika anak-anaknya mendapat pendidikan. Sekalipun ada orang tua yang beragama Kristen, mereka tak keberatan jika anaknya dimasukkan sekolah pendidikan Islam. Orang tua mereka bilang, antarkan kemana saja, asal anak-anaknya berpendidikan.”

    Bagi yang telah tamat belajar, mereka dilibatkan untuk melakukan pengajaran sebagai wujud pengabdian atau semacan training of trainers. Saat ini sudah 40 % yang telah di-Islamkan, tepatnya dari 200-300 penghuninya. Ada sejumlah titik yang mereka jangkau untuk didakwahi, diantaranya: Kota Kinabalu, Ranau, Sempoerna, sempadan Indonesia, Tarakan, Kepulauan holo –philipna selatan, dan Sandakan.

    Program yang dirancang, bukan hanya memberikan makanan dan pakaian, tapi program pendidikan, dimana mereka haus akan ilmu. Setiap tiga bulan Tim MAPIM secara bergantian untuk membina warga di pedalaman Sabah. Ditanya soal anggaran untuk membiayai kegiatan kemanusiaan MAPIM, mereka punya donasi tetap.

    “Kami dibiayai oleh donatur. Kami saling timbalik balik. Kami bantu perniagaannya, dan pengusaha itu pun bantu dakwah kami,” ujar Aisyah.

    Hingga kini ada 60 anggota MAPIM yang aktif. Tapi untuk yang menetap di Sabah belum ada. Dua tahun ke depan, akan ada yang menetap di pedalaman Sabah untuk membina warga disana. “Dakwah ini adalah kerja Rasulullah dan para sahabat. Setiap dakwah selalu menemui rintangan dan tantangannya. Kalau pendakwahnya goyah, tak akan ada dakwah. Saya sendiri punya keluarga yang masih beragama Kristen, dan selalu ada saja yang tak senang dengan kerja dakwah kami.”

    Salah satu program baru (2015) yang sedang diwujudkan MAPIM adalah Projek Infaq Sepohon Pokok (benih pohon). Benih pohon itu terdiri dari pohon buah-buahanm, seperti mangga, manggis, durian dan sebagainya. Ada ratusan benih yang dibagikan dan ditanam. MAPIM bekerjasama dengan sebuah instansi pertanian di Malaysia.

    “Program ini untuk membantu ekonomi orang pedalaman, agar bisa hidup mandiri, sehingga tak bergantung lagi dengan segala bantuan. Kami carikan donatur untuk setiap pohon. Satu pohon senilai 10 ringgit. Setiap rumah terdapat beberapa benih pohon yang harus dijaga baik-baik. Jika telah tumbuh dan menuai hasilnya, kami akan ziarahi tanaman mereka, dan tentu saja yang menanamnya,” tukas Aisyah. (Desastian/Islampos)

    Jadi Target Diksriminatif, Muslim India Menyusut Lebih Cepat

    image

    KELUARGA Muslim India menjadi minoritas dibandingkan dengan masyarakat lain di negara itu, menurut data sensus yang dirilis Jumat pekan lalu, lansir World Bulletin, Senin (23/5/2016).

    Jumlah keluarga komunitas muslim, menurun hingga 5,61%-5,15%. Mengalami penurunan tajam sebanyak 11% dengan kepala rumah tangga lengkap, sementara keluarga tanpa kepala keluarga laki-laki (dikepalai oleh perempuan/janda – *red) mengalami penurunan sebanyak 4,47%.

    Sensus dirilis berdasarkan data tahun 2011.

    Penurunan ini disebabkan oleh fakta bahwa komunitas Muslim sering jadi target diskriminatif kelompok sayap kanan Hindu.

    Sebagai contoh pada tahun lalu, dua anggota parlemen Hindu secara terpisah meminta wanita Hindu untuk memiliki setidaknya empat anak untuk melawan pertumbuhan penduduk Muslim.

    Data populasi agama yang dirilis pada tahun lalu menunjukkan bahwa komunitas Muslim tumbuh 24,6 % antara tahun 2001 dan 2011.

    Masyarakat India lainnya, menunjukkan penurunan jumlah rata-rata keluarga dimana Hindu menurun 5,02% selama dekade ini, rumah tangga Kristen dengan 6.47%, Sikh 7,44%, Budha oleh 5,96% dan Jain 5,5%.

    Jejak Sumber : [rf/Islampos]

    HAMKA : Usaha Pemisahan Pribumi dengan Islam

    PENDIDIKAN merupakan sektor sentral yang berperan dalam menentukan kemajuan dan kemunduran suatu peradaban atau bangsa.

    Melalui pendidikan, setiap individu terdidik dan tumbuh menjadi berbagai karakter yang memiliki kepribadian dan keilmuan, yang akan diterjunkan memenuhi bidang kehidupan di tengah-tengah hidup sosial.

    Pandangan umum dan kondisi sosial juga dipengaruhi dengan nilai-nilai hidup yang dibawa oleh individu atau komunitas yang memerankan diri dalam suatu kedudukan dalam masyarakat secara dominan, sehingga membentuk aturan dan sistem hidup ke arah yang baik atau buruk, bersih atau kotor, islami atau sekuler.

    image

    Ket gambar : Madrasah Mu’allimiin Muhammadiyah Yogyakarta pada awalnya didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918

    Salah seorang ulama dan intelektual besar Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai HAMKA telah memberikan suatu pandangan dan perhatian atas permasalahan besar yang pernah dialami negeri ini.

    Dalam bukunya Falsafah Hidup yang terbit pertama kali pada tahun 1939, HAMKA menyebutkan, bagaimana penjajahan yang dilakukan oleh kolonial dalam melemahkan dan menguasai kaum pribumi Indonesia, yang mayoritasnya adalah masyarakat yang beragama Islam dan menjunjung aturan hidupnya sebagai Muslim, adalah melalui sektor pendidikan:

    “Setelah dapat menguasai dan menaklukkan Indonesia, siasat Belanda yang utama ialah siasat pendidikan. Pendidikan membuat segolongan putera Indonesia sendiri supaya dapat berpikir cara Belanda. Inilah kelak kemudiannya yang dijadikan alat perkakas untuk mencengkramkan kuku penjajahan atas golongan rakyat yang terbesar. Dalam 350 tahun penjajahan, hanya 71/2% rakyat yang lebih 70 miliun (juta) yang dapat menulis dan membaca.” (HAMKA, 1984: 223)

    HAMKA menyebutkan bahwa, siasat utama Belanda untuk menguasai dan menaklukkan Indonesia adalah melalui pendidikan. Terbukti dengan sedikitnya persentase masyarakat yang tidak dapat menulis dan membaca, sehingga tetap menjaga eksistensi Belanda sebagai bangsa yang lebih kuat dan berpengetahuan. Pandangan HAMKA dalam melihat pola penjajahan di atas, menjadi representasi gambaran dan kondisi yang pernah terjadi pada masa kolonial di Indonesia. Hal ini juga tampaknya masih relevan dan berlangsung hingga saat ini. Lebih jauh, HAMKA menjelaskan bagaimana penjajahan melalui sektor pendidikan, yang berperan strategis dalam menguasai pemikiran dan kehendak kaum pribumi:

    “Kepada bangsa Indonesia dimasukkan perasaan bahwa mereka “tidak bisa apa-apa”. Tidak bisa pintar sepintar Belanda. Tidak bisa kaya, sekaya Belanda. Tidak bisa naik pangkat setinggi pangkat Belanda. Dan politik penjajahan “kuno” bangsa Romawi dipakai pula, yaitu “pecahkan dan kuasai”. Akibat seluruh politik ini bukan sedikit membekas ke jiwa bangsa Indonesia. Mereka menjadi pendiam. Lagu-lagu dan nyanyiannya, dan pantunnya jarang yang gembira. Lagu-lagu Gending Sunda, Kinanti Jawa, Sikambang di pesisir Sumatera Timur, adalah nyanyian sedih belaka. Kepada dunia senantiasa dinyatakan “Bangsa yang sesabar-sabarnya dunia.” (HAMKA, 1984: 214)

    Jika pendidikan telah menjadi alat penjajahan, maka sangat mudah bagi kaum kolonial mengendalikan pemikiran dan mental bangsa yang dikuasainya. Mental dan jiwa masyarakat Indonesia yang telah terdidik dalam model pendidikan penjajah, akan menjadikannya “menurut” kepada tuannya. Kaum pribumi akhirnya merasa rendah dan kehilangan semangat kepercayaan dirinya, yang  seharusnya telah  lama terbangun dari pendidikan agama dan kebudayaan yang sudah ratusan tahun mereka pegang di Nusantara. Kegembiraan dan kesenangan yang biasa mereka lakukan dan rasakan dahulu, telah meredup dan diganti dengan kesedihan dan ratapan belaka, melalui irama senandung yang mengungkapkan perasaan hati mereka. Karena “saking” lamanya penjajahan itu berlangsung di Indonesia, kepada dunia dikatakan ia sebagai “Bangsa yang sesabar-sabarnya”.

    Melalui jalur pendidikan inilah, kaum kolonial melepas satu persatu pandangan dan prinsip hidup kaum pribumi. Jika pada awalnya dahulu Belanda melakukan suatu bentuk penjajahan yang lebih bersifat frontal melalui militer dan kebijakan, yang membuat keterkalahan bagi kaum pribumi secara politik dan sosial. Namun hal itu ternyata belum dapat mengalahkan pendirian dan prinsip hidup mereka dalam memegang aqidah Islam, yang justru semakin kuat dan melawan ketika ditentang oleh kaum kolonial yang berbeda aqidah dengan mereka. Akhirnya kaum kolonial atau Barat menyadari, dan merubah strategi penjajahan mereka melalui kebijakan “Politik Etis” yang salah satu agenda utamanya melalui pendidikan dengan jalan merubah cara berpikir pribumi.

    HAMKA menyebutkan, yang membuat bangsa penjajah kuat dan mampu menaklukkan negeri Islam. Yakni karena mereka lebih terpelajar dan tidak terikat oleh agama. Sehingga orang-orang Islam yang  hendak pintar dan maju seperti mereka pun, dipaksa untuk meniru keilmuan dan melonggarkan ikatan agamanya. Orang Islam kemudian diminta untuk pandai menyesuaikan diri dengan keadaan. Tidak boleh fanatik dan harus melapangkan diri mengikuti modernitas dan gaya hidup Barat.

    Kaum pribumi yang telah silau dengan tawaran kemajuan, akhirnya melepaskan putera-puteri mereka kepada sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial yang saat itu berkuasa, dengan harapan agar dapat bertahan dan meningkatkan taraf hidupnya. Sekolah pemerintah kolonial ini, disebut HAMKA memberikan dasar pendidikan “netral agama”, namun sejatinya merupakan bagian dari strategi penjajahan yang secara berangsur ingin memisahkan dan menanamkan kebencian kepada Islam, yang telah mengakar pada keturunan dan lingkungan hidupnya di Nusantara. HAMKA secara  jelas menyebutkan:

    Maka jelaslah dasar pendidikan, yaitu “neutral agama”. Artinya pada sekolah-sekolah pemerintahan agama tidak diajarkan. Sedangkan semata-mata tidak diajarkan lagi membawa kelemahan, apatah lagi kalau ditambah ditambah pula dengan pengajaran setiap hari yang berisikan anasir racun kejemukan, muak dan bosan, dan akhirnya benci kepada agama. (HAMKA, 1982: 8)

    Lebih jauh dijelaskan oleh HAMKA, bahwa dalam buku-buku pengajaran di sekolah-sekolah umum yang disediakan pemerintah kolonial misalnya, digambarkan anak negeri asli dengan muka seburuk-buruknya. Kakinya tidak berterompah, orangnya bodoh-bodoh, hidungnya pesek-pesek dan mukanya hitam berminyak. Mereka adalah bangsa buruh yang kasar dan petani yang kurus. Digambarkan pula orang Arab dengan jubahnya yang ribet dan serbannya yang besar serta menipu orang. Sedangkan bangsa kolonial yang menjadi “tuan-tuan” digambarkan mukanya cakap, sikapnya manis, dermawan dan tahu akan kemanusiaan. Semakin tinggi dan bertambah jenjang atau tingkatan kelas yang ditempuh. Maka semakin jauhlah kaum pribumi yang terdidik dalam sistem pendidikan penjajahan itu, dari agama, masyarakat dan orang tuanya. HAMKA kemudian melanjutkan:

    Akhirnya setelah sampai sekolah tinggi, mulailah diajarkan “Agama Islam” dari segi “ilmu pengetahuan” Barat, pendapat profesor anu, kupasan sarjana fulan, yang isinya ialah memandang Islam sebagai pandangan orang lain. Maka tidaklah kita heran kelak apabila mereka ini keluar dari dalam sekolahnya, rengganglah minyak dengan air. Bertemulah kita dengan orang Belanda yang lebih dari Belanda. Orang Perancis yang lebih dari Perancis, orang Inggris yang lebih dari Inggris, tetapi kulitnya hitam. (HAMKA, 1982: 8)*

    PADA jenjang pendidikan tertingginya, HAMKA menjelaskan, kaum pribumi yang telah dikondisikan dan menaruh kepercayaan kuat terhadap Barat. Dengan mudah mengikuti apa yang didiktekan kepada mereka, termasuk dalam materi agama mereka pribadi. Mereka menerima begitu saja, apa yang dinyatakan oleh para professor atau sarjana Barat tentang agama mereka. Mengatakan bahwa agama Islam kolot, fanatik, dan tidak menghargai modernitas.

    Akhirnya mereka pun ikut-ikutan latah dalam mencibir orang-orang yang taat dalam agamanya sendiri sebagai “fanatik”,  serta merasa risih mendengar permasalahan agama yang banyak dibicarakan dalam lingkungan Islamnya. Hal ini secara tidak sadar, telah merubah pemikiran dan sikap mereka menjadi sama dengan kaum kolonial dalam memandang agama mereka dan berbagai perihal.

    Bahkan dengan bangga, kaum pribumi yang telah terdidik dalam sistem pendidikan kolonial ini, secara lebih bersemangat mencoba menjadi seperti Barat dan lebih dari Barat. Sehingga dikatakan HAMKA, mereka itu adalah orang Belanda yang lebih dari Belanda, orang Prancis yang lebih dari Prancis, dan orang Inggris yang lebih dari Inggris, namun mereka tetap tidak bisa menyembunyikan kulit hitam atau rasnya, yang merupakan keturunan asli dari kaum pribumi, yang merupakan kaum jajahannya.

    Kaum pribumi yang tumbuh dalam sistem pendidikan umum kolonial ini, akhirnya mulai terpisah dengan pendidikan Islam dan masyarakatnya. Mereka tidak tahu lagi cara melakukan sholat, puasa, zakat dan rukun-rukun Islam lainnya. Hidup mereka lebih tertutup dan khusus untuk memenuhi kepentingan diri sendiri, sebab telah merasa jemu melihat lingkungan hidupnya yang taat beragama, yang dipandang sebagai orang-orang yang kolot dan tertinggal dari modernitas.

    Mereka merasa jijik jika harus sholat jumat dan berdekatan dengan bang Ali tukang becak dan pak Amat tukang sate. Hanya saat upacara kematian saja mereka memanggil orang-orang “fanatik” yang tinggal disekeliling tempat tinggalnya, meminta tolong mengurus mayit itu. Supaya ditolong bagaimana cara memandikan, mengkafani, menyembahyangkan dan menguburkan. Karena mereka sudah tidak tahu lagi.

    HAMKA kemudian melanjutkan. Meskipun kaum pribumi ini secara terang tidak memperlihatkan dan menunjukkan identitas agamanya. Namun jika ditanya tentang keyakinannya, terkadang mereka juga masih mengaku “orang Islam”. Sebab ayah bunda mereka adalah orang Islam, nama mereka pun adalah nama Islam. Mirisnya babi tetap di makan juga, minum tuak, khamar dan brendy sudah menjadi kebiasan yang tidak dapat dilepaskan. Apa yang dinamai oleh masyarakat Islam selama ini dengan “zina” dan sangat dibenci atau ditakuti, bagi mereka bukanlah soal. Itu adalah urusan “pribadi”. Apalah lagi kalau “suka sama suka”, siapa yang berhak menghalanginya? Terang HAMKA dengan panjang lebar. HAMKA juga menambahkan bagaimana tabiat atau kebiasaan mereka, serta alasan rapuh pandangannya:

    Dengan tangkas dicela caci orang yang beristri lebih dari satu (poligami). Poligami adalah alamat kemunduran dan menyakiti hati kaum wanita. Karena memang banyak wanita yang sakit hatinya kalau suaminya beristri seorang lagi, tetapi tidak sakit hatinya kalau suaminya ngeluyur mencari kepuasan ke luar rumah! Dengan “poligami” yang tidak ada batasnya! (HAMKA, 1982: 9)

    Sampai di Jawa Tengah, orang-orang tidak segan memakai istilah yang dibuat oleh penjajah, “mutihan” dan “ngaputih” yang digunakan untuk menunjuk kiai-kiai dan santri yang teguh mengerjakan perintah agama. “Ngabangan” ialah orang yang mengakui diri bahwa mereka masih Islam, tapi tidak mengerjakan perintah-perintah agama. Didikan“netral” khususnya dalam agama, menurut HAMKA kalau diperhatikan dengan seksama, hanya terhadap putera-putera orang Islam kaum pribumi saja. Orang Kristen dengan Misi dan Zendingnya bergiat terus mendirikan sekolah-sekolah berdasar agama dan mereka pun bekerjasama dengan pemerintah kolonial dalam misi melemahkan dan memisahkan pribumi dari agama Islam.

    Dilema bagi orang yang terdidik dalam pendidikan Barat, yang bertentangan dengan akidah dan lingkungannya. Memaksa mereka untuk mencintai apa yang bukan miliknya, dan meninggalkan apa yang seharusnya menjadi ibunya. Jiwa dan kepribadiannya akhirnya terbelah, tidak mudah diterima oleh lingkungan diri dan lingkungan orang lain.

    Pada lingkungannya ia merasa jauh dan terpisah oleh sebuah jurang antara dirinya dan kepada orang-orang yang teguh dalam beragama. Kepada lingkungan Barat ia belum tentu didengar dan diperhatikan oleh mereka, sebab ia bukanlah orang asli dari kalangan Barat sendiri.

    HAMKA menarasikan, bagaimana ironi seorang Muslim yang meninggalkan agamanya dan bangga kepada pendidikan dan kehidupan Barat. Sedangkan orang Barat yang mendidiknya sendiri, belum tentu terlalu bangga dan meninggalkan agamanya:

    “Sebab itu kalau kita berjumpa pergaulanyang rapat diantara orang Kristen terpelajar dengan keturunan Islam terpelajar, sama-sama minum tuak, sama-sama berdansa dan lain-lain; nanti kalau datang waktu makan, si terpelajar Kristen menyusun tangannya terlebih dahulu, sembahyang menurut agamanya sebelum sendok dan garpu tercecah ke pinggan makan. Sedang si Islam terpelajar tadi tidaklah tahu apa yang akan dibacanya. “Bismillah” saja, merekapun tidak tahu. Bahkan kalau didengarnya orang membaca “Bismillah”, diapun tertawa penuh ejekan. Dan hari Minggu si Kristen kawannya tadi pergi ke gereja. Sehingga kalau si terpelajar Islam tadi datang ke rumah kawannya itu hari minggu, tidaklah akan berjumpa, sebab dia ke gereja. Sedang si terpelajar orang Islam tadi, meskipun kantornya ditutup lekas pada hari Jum`at, tidaklah dia ke mesjid!” (HAMKA, 1982: 10).*

    Oleh: Bambang Galih Setiawan

    Jejak Sumber : Hidayatullah.com

    Kisah Ikhtilaf dan Persatuan : Shalat Ashar di Bani Quraidhah

    image

    SATU hari di tahun kelima Hijriyah. Sekelompok orang Yahudi bergegas ke Mekkah. Mereka memprovokasi kaum kafir Qureisy agar menyerang kaum Muslimin yang berpusat di Madinah.

    Kedatangan tokoh-tokoh Yahudi itu mendapat sambutan hangat. Demi merontokkan pasukan Muslimin, mereka segera meminta bantuan kabilah-kabilah yang telah lama menentang dakwah Rasulullah SAW. Termasuk mereka yang sebenarnya terikat perjanjian militer dengan Rasulullah di dekati.

    Abu Sufyan, sang duta penghubung antarkabilah, berhasil menghimpun kekuatan sebesar 10 ribu tentara. Pasukan gabungan sebanyak ini terhitung sangat besar untuk ukuran kala itu. Sebab, itu sebanding dengan jumlah seluruh penduduk Madinah yang terdiri atas pasukan Islam, anak-anak, wanita, serta orang lanjut usia.

    Merasa memiliki pasukan yang tak tertandingi itu, rencana penyerangan ke jantung pasukan Islam di Madinah pun ditentukan. Namun, rencana tersebut terendus Rasulullah melalui kabar dari shahabat-shahabatnya.

    Rasulullah SAW segera mengumpulkan para sahabatnya untuk meminta pendapat mereka soal serangan kaum kafir yang diberi sandi perang Ahzab itu. Salman Al-Farisi, sahabat Nabi asal Persia, mengusulkan–yang kemudian diterima–pembuatan parit-parit sebagaimana dilakukan bangsa Persia menghadapi perang besar.

    Seluruh anggota pasukan Islam bahu-membahu dan bekerja keras menggali parit. Selama 6 hari mereka akhirnya dapat membentengi diri dengan parit-parit di selaga penjuru kota Madinah.

    Di saat kesiapan dan kesiagaan pasukan Islam menggema, kelompok Yahudi Bani Quraidhah yang tinggal di Madinah bersikap arogan. Mereka dengan congkak merobek isi perjanjian damai yang pernah diteken dengan Rasulullah. Mereka bahkan bersiap-siap memebantu pasukan Ahzab untuk menghabisi Rasulullah beserta pengikutnya. Terang saja pasukan Islam bertambah bebannya, dengan musuh yang tinggal di dalam (Madinah).

    Pasukan kafir terperangah begitu menyaksikan bentangan parit yang menghalangi gerak laju mereka. Sebab, baru kali itu mereka mendapati perang dengan strategi yang di luar kebiasaan bangsa Arab. Berkali-kali mereka berusaha menerobos parit, tetapi gagal. Dengan pertolongan Allah–melalui “pasukan” badah dahsyat–pasukan Ahzab kocar-kacir dan kembali ke daerah kabilah mereka masing-masing….

    Tiga kelompok Yahudi yang bersekutu dengan pasukan Ahzab termasuk yang menderita kekalahan. Meski menanggung rasa bersalah mereka pada akhirnya kembali ke Madinah karena memiliki sanak famili dan tanah pertanian di sana.

    Ketiga kelompok turunan Yahudi adalah Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraidhah. Dengan mereka inilah Nabi SAW mengikat perjanjian untuk tidak saling mengganggu. Perjanjian ini diteken demi menciptakan suasana rukun dan damai antarkelompok untuk bisa hidup berdampingan di Madinah.

    Bergabungnya ketiga kabilah Yahudi tersebut membuat renggang hubungan dengan kaum Muslimin. Kabilah Yahudi telah melakukan pengkhianatan dan pelanggaran terhadap kesepakatan. Atas tindakan mereka berkhianat ini, pasukan Islam “mengganjarnya” pengusiran kabilah Bani Qainuqa dan Bani Nadhir dari Madinah.

    Sedangkan Bani Quraidhah yang dengan lancang merobek-robek naskah perjanjian damai, mendapatkan hukuman yang berat. Rasulullah SAW melalui petunjuk Allah SWT memerintahkan untuk mengepung dan menyerang perkampungan Bani Quraidhah.

    Persiapan penyerangan itu pun dengan sigap dipenuhi. Pasukan Islam yang dipimpin Saad bin Mu’adz–pemimpin Bani Aus yang dulu menjadi sekutu dekat Bani Quraidhah–siap-siap berangkat. Dalam pesan pemberangkatan Rasulullah SAW bersabda, “Tak seorang pun boleh melakukan shalat Ashar kecuali di Bani Quraidhah.”

    Siang itu pun pasukan Islam dengan penuh semangat jihad berangkat ke perkampungan Bani Quraidhah. Derap kuda menerbangkan debu-debu pasir hingga kiloan meter.

    Lokasi yang dituju memang cukup jauh sehingga sebagian shahabat ada yang menduga hingga matahari tenggelam bisa jadi pasukan belum tiba di tempat tujuan.

    Waktu shalat Ashar tiba. Pasukan Islam baru sampai separuh perjalanan. Pesan Rasulullah masih terngiang di benar tiap-tiap jundi (tentara). Dengan mempercepat laju kuda mereka berharap segera tiba di tujuan. Karena jaraknya terasa masih jauh, sebagian anggota pasukan tiba-tiba berinisiatif melakukan shalat Ashar. Setelah bertayamum mereka pun melaksanakannya. Sebagian anggota pasukan lainnya tetap melanjutkan perjalanan.

    Sinar matahari dengan lembayung senjanya sudah nampak mendekati ujung barat bumi. Pasukan yang belum menunaikan shalat Ashar itu sudah harap-harap cemas. Tapi, “bau” kampung Bani Quraidhah sudah tercium. Hingga mereka tiba sebelum Maghrib. Tanpa perlawanan yang berarti karena posisi yang terjepit dan mental yang telah melemah, pasukan bani Quraidhah mendapat hukuman setimpal akibat pengkhianatan itu.

    Kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan besar, pasukan Islam mengadukan perihal implementasi perintah Rasul yang berbeda. Setelah terdiam sejenak, Rasulullah SAW bersabda, “Anda benar; Anda juga benar.”

    Mendengar sabda mulia nan bijak itu, seluruh shahabat merasa tenteram. Lebih-lebih Rasulullah SAW sendiri bahagia karena meski berbeda pendapat, para shahabat tetap taat dan tidak berpecah belah. [Misroji/Majalah SAKSI]

    jejak Sumber : Islampos.com

    Gerakan Zionis di Indonesia Sudah Berlangsung Sejak Belanda Berkuasa

    image

    Kegiatan Zionis di Indonesia sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Dulu, di samping Gedung Departemen Keuangan di Lapangan Banteng terdapat "rumah setan", tempat perkumpulan Freemason, suatu gerakan Zionis di Indonesia.
    Freemason dalam kegiatannya menggunakan kedok persaudaraan, kemanusiaan, tak membedakan agama dan ras, warna kulit maupun gender serta tingkat sosial di masyarakat. Di Jalan Kramat dekat Senen, ketika itu Snouck Hurgronye —seorang orientalis Belanda yang menyamar sebagai Muslim— bertempat tinggal.
    Snouck menguasai bahasa Arab dan fasih berbicara soal sejarah Islam. Bahkan, Snouck pergi ke Makkah dan Madinah —dua Kota Suci yang haram didatangi bagi non-Muslim.
    Menurut sejarawan Mr Hamid Algadri, Snouck bukan saja bertindak sebagai ilmuwan yang ingin mengabdikan ilmunya untuk kepentingan politik kolonialisme Belanda di Indonesia, tapi untuk tujuan itu dia juga menjauhkan orang Indonesia dari keturunan Arab yang baginya identik dengan Islam.

    Gerakan Freemason di Rumah Setan

    Orang Betawi sampai awal abad ke-20 dengan rasa takut menyebut gedung dengan enam buah pilar sebagai penyangganya adalah ‘rumah setan’. Letaknya bersebrangan dengan Gedung Mahkamah Agung (MA) pada masa Bung Karno dan awal pemerintahan Pak Harto.
    Gedung MA terletak di sebelah kanan Kementerian Keuangan di Lapangan Banteng, yang dahulu rencananya oleh Gubernur Jenderal Daendels akan dibangun Istana. Namun rencana itu urung dilakukan.
    Rumah Setan seperti terlihat dalam foto terletak di Vrijmet Selaarweg(kini Jalan Budi Utomo), tidak jauh dari Kantor Pos Pasar Baru, Jakarta Pusat. Bangunan yang memiliki loge (loji) merupakan perkumpulan kaum Theosofi De Ster in het Oosten atau Bintang Timur.
    Tapi gedung itu lebih populer dengan sebutan rumah setan, sebutan yang dibisikkan oleh pribumi dengan rasa takut. Dahulu, di sebelah ‘rumah setan’ terdapat perumahan para perwira dan petinggi Belanda.

    Jaringan Zionis di Indonesia

    Di rumah setan inilah, yang kemudian pada awal abad ke-20 menjadi gedung farmasi Rathkamp dan kini Kimia Farma setelah diambil alih Pemerintah RI, dijadikan pusat kegiatan Freemason suatu gerakan yang menjadi kaki tangan zionisme sejak abad ke-18 di Indonesia. Waktu itu namanya La Choisile didirikan pada 1763 oleh Jacobus Cornelis Mattheus Roderman Cher (1741-1783) beserta enam orang kawannya.
    La Choisile kemudian membangun dua loge (loji) lainnya yang sebagian besar anggotanya para militer dan petinggi Belanda, termasuk perwira-perwira VOC. Menunjukkan sejak ratusan tahun lalu Yahudi telah mengembangkan sayapnya di Indonesia. Dulu diNoordwijk (Jalan Juanda) dan Rijswijk (Jalan Segara) yang merupakan pusat perdagangan dan pertokoan di Batavia, warga Yahudi banyak yang membuka toko.
    Kedua loge (loji) hingga kini masih berdiri sekalipun fungsinya sudah beralih menjadi pabrik Kimia Farma. Di dekatnya dulu terdapat SMA terkenal Budi Utomo.

    Pada awal gerakannya Freemason atau Vrijmetselarij dalam Belanda, menggunakan kedok persaudaraan, kemanusiaan, tak membedakan agama dan ras, warna kulit dan gender, apalagi tingkat sosial di masyarakat. Mereka menitikberatkan gerakannya pada kegiatan ilmiah dan bersifat keilmuan.

    Pluralisme Ajaran Orang-Orang Yahudi

    Gerakan ini juga memberikan beasiswa pada murid-murid berbakat. Tidak heran banyak tokoh masyarakat ketika itu bersimpati pada gerakan ini.
    Satu dari sekian doktrin yang dengan kuat diajarkan dalam persaudaraan Freemason adalah sikap mereka pada agama. Mereka menganggap semua agama sama.

    Ini sama persis dengan apa yang marak kita temui hari-hari dengan nama lain: pluralisme. Dan memang sesungguhnya pluralisme pun adalah ajaran dari pemikiran orang-orang Yahudi, tulis Herry Nurdi dalam buku ‘Jejak Freemason & Zionis di Indonesia’.
    Menurut para orang tua, masyarakat sendiri banyak tertipu menyangka warga Yahudi adalah keturunan Arab, karena menggunakan bahasa ini dengan fasih.

     

    Jakarta Tempo Dulu :

    Sepeda Dulu Harus Bayar Pajak

    Selama Ramadhan, Pasar Senen, seperti saudara kembarnya, Pasar Tanah Abang, banyak didatangi pembeli. Mereka mencari barang-barang kebutuhan Lebaran. Kedua pasar yang berada di Jakarta Pusat itu dibangun pertama kali oleh Justinus Pink —seorang petinggi Hindia Belanda— pada abad ke-18.
    Kini kedua itu saling berlomba untuk menjadi pasar terbesar di Tanah Air. Tidak henti-hentinya kedua pasar yang telah berusia hampir tiga abad itu terus memperluas diri.
    Baiklah, kita beralih ke situasi Kramat-Pasar Senen pada 1935. Di depan pasar, tempat kini berdiri Atrium Senen, dulu terdapat Apotik Rathkamp yang setelah kemerdekaan menjadi Kimia Farma. Daerah ini dulunya disebut Gang Kenanga. Di sini terdapat toko sepeda terkenal, Tjong & Co.
    Kala itu sepeda merupakan kendaraan yang paling banyak digunakan masyarakat mulai dari murid sekolah, pegawai, hingga pedagang. Sepeda yang terkenal kala itu bermerek Humber, Raleigh, Royal & Fill, Fongers dan Hercules.
    Pada masa kolonial dan awal kemerdekaan, memiliki sepeda harus memakai peneng —semacam pajak seperti STNK untuk mobil. Naik sepeda pada malam hari harus memakai lampu. Mula-mula lampu minyak, kemudian menggunakan berco yang ditempelkan pada ban depan saat berjalan. Tanpa peneng dan lampu, sepeda akan ditahan polisi untuk kemudian di proses ke landracht (pengadilan) —istilah sekarang ditilang.

    Polisi dan Si Manis Jembatan Ancol yang Ditakuti

    Ketika itu, meskipun ada polisi yang ceker ayam alias telanjang kaki, mereka sangat ditakuti. Denda pelanggarannya bisa mencapai lima gulden, setara dengan gaji golongan menengah ke bawah.
    Tidak ada polisi yang mau menerima ‘uang rokok’ alias makan sogokan. Mereka yang melakukan pelanggaran berat bisa dipenjara selama sebulan.
    Kala itu, bioskop Grand —kemudian Kramat Theater— masih bernama Rex Theater. Di depannya terdapat trem yang menghubungkan Meester Cornelis (Jatinegara) dengan Pasar Ikan lewat Senen, Pasar Baru, Sawah Besar dan Glodok. Pada masa kolonial, keturunan Arab dan Tionghoa harus naik trem di kelas dua, dan Belanda di kelas satu. Sedangkan pribumi di kelas tiga.
    Ada juga trem dari Jatinegara ke Gunung Sahari dan Ancol. Sampai 1950-an hampir tidak ada sopir yang berani melewati Ancol pada malam hari.
    Alasannya di sekitar jembatan Ancol (kini tempat masuk ke Taman Impian Jaya Ancol) masih berupa hutan belukar penuh monyet yang sering berhamburan keluar. Ditambah adanya isu Si Manis dari jembatan Ancol yang sering muncul mengganggu para sopir yang lewat di malam hari.

    Pengusaha Jepang Jadi Mata-Mata

    Di Pasar Senen saat itu banyak bermunculan toko milik orang Jepang, yang statusnya oleh Belanda disamakan dengan golongan Eropa. Harga barang-barang di toko milik orang Jepang jauh lebih murah ketimbang produk Eropa dan lokal.
    Ternyata sebagian besar warga Jepang itu adalah mata-mata. Mereka rupanya telah menyiapkan diri untuk menaklukkan Hindia Belanda yang dibuktikan pada Perang Dunia II.
    Di Pasar Senen juga terdapat tukang peci Idris Halim merek Pantas. Konon, Bung Karno selalu memesan peci dari tempat ini.
    Antara Bioskop Rex dan Tanah Tinggi banyak toko dan kafe bermunculan. Seperti Padangsche Buffert —mungkin rumah makan pertama di Jakarta.

    Rumah Makan Padang Tempat Seniman Berkumpul

    Pada 1950-an di Senen terdapat rumah makan padang Ismail Merapi. Di sinilah tempat para seniman Senen, seperti Sukarno M Noor, Wahyu Sihombing, Sumandjaya, Menzano, Wahid Chan, termasuk HB Yassin dan Djamaluddin Malik berkumpul. Letak rumah makan ini di pintu gerbang pertama Proyek Senen.
    Saat itu toko yang paling terkenal di Pasar Senen adalah Baba Gemuk dan Baba Jenggot. Kasirnya menghitung uang belanjaan dengan shempoa yang tidak kalah cepatnya dengan sistem komputer.
    Di dekatnya ada toko batik milik Ahmad bin Alwi Shahab, raja batik asal Pekalongan. Di pasar ini juga terdapat toko sepeda H Ma’ruf, yang putranya pada 1950-an membangun bioskop Garden Hall di Taman Ismail Marzuki.
    Di Gang Kwini, dekat RS Gatot Subroto, terdapat kediaman Djohan Djohor — pengusaha kenamaan — kawan baik Bung Hatta. Pada medio 1930-an ada seorang pribumi yang menjadi pengusaha perdagangan dan perkapalan Dasaad Concern. Sedangkan pengusaha Arab terkenal saat itu adalah Marba, singkatan dari nama Marta dan Bajened. Yang terakhir ini pada tahun 1950-an mati ditembak oleh Bir Ali dari Cikini yang hendak merampoknya.

    Jejak Sumber : Republika.co.id

    Ketika Bandit dan Santri Bersatu Melawan Penjajah, Secuil Kisah KH As’ad Syamsul Arifin

    kh as'ad

    Ada kisah menarik dari KH As’ad Syamsul Arifin. Dia ulama yang sangat kharismatik. Preman paling jahat saja sangat hormat pada sosoknya.

    Saat Belanda coba mengusik kembali Kemerdekaan Indonesia, Kiai As’ad langsung angkat senjata. Dia memimpin Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah untuk melawan Belanda.

    Kiai As’ad juga mengumpulkan para penjahat, preman dan berandalan di daerah Tapal Kuda. Dia menyatukan semua bandit dan jawara di wilayah Banyuwangi, Situbondo, Jember, Lumajang dan Pasuruan untuk memerangi penjajah.

    “Barisan bandit ini kemudian dihimpung dengan satu nama: Barisan Pelopor. Mereka gemar berpakaian serba hitam. Senjatanya clurit, rotan dan keris,” demikian ditulis Munawir Aziz dalam Buku Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional.

    Peluncuran buku ini digelar di Jakarta, Sabtu (7/5) lalu.

    Walau bandit dan jawara, semua orang di Barisan Pelopor tunduk pada Kiai As’ad. Mereka sangat menghormati sosok ulama yang menguasai ilmu agama, kanuragan hingga strategi militer.

    Maka bersatulah preman dan santri untuk memperjuangkan tegaknya Republik Indonesia. Kiai As’ad memerintahkan perang gerilya. Taktik ‘hit and run’ para laskar ini menyulitkan patroli militer Belanda

    Para berandal dan santri ini menunjukkan keberanian mereka. Berkali-kali perintah Kiai As’ad untuk merebut senjata Belanda sukses dilakukan. Senjata yang direbut dikirimkan pada Kiai As’ad lewat hutan. Kemudian disembunyikan di lumbung padi, masjid atau ditimbun di kuburan. Hal ini terus dilakukan sampai Belanda pergi tahun 1949.

    Satu pesan yang selalu mereka ingat. “Perang itu harus menegakkan agama dan merebut negara. Kalau hanya merebut negara, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang. Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalian akan mati syahid,” kata Kiai As’ad.

    Semoga semangat Kiai As’ad Syamsul Arif, penjaga benteng NKRI bisa diteladani generasi muda. Terlebih di saat kondisi Indonesia sekarang yang dikuasai para maling dan rampok yang menjadi antek-antek asing dan asing. Sepertinya harus ada revolusi kembali, yang menyatukan para Bumiputera yang cinta agama dan negeri, untuk bangkit berjuang merebut kemerdekaan negeri ini kembali. Historia se repete, sejarah itu berulang… (ts)

     

    jejak sumber : eramuslim.com

    Ciri-ciri munafik

    Dusta

    Hadis Rasulullah yang diriwayatkan Imam Ahmad Musnad dengan sanad yang baik:

    "Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya. Iaitu seseorang yang berdusta agar orang-orang tertawa."

    Di dalam kitab Sahih Bukhari dan Muslim pula), Rasulullah bersabda:

    "Tanda orang munafik ada tiga, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta."

    Khianat

    Sabda Rasulullah s.a.w.:

    "Dan apabila berjanji, dia berkhianat."[1]

    Petikan hadis ini menjelaskan bahawa barangsiapa memberikan janji kepada seseorang, sama ada kepada isterinya, anaknya, sahabatnya, atau kepada sesiapa sekalipun, kemudian dia mengkhianati janji tersebut tanpa ada sebab uzur syar'i atau halangan yang benar-benar menghalang tanpa dikehendakinya, maka telah melekat pada dirinya salah satu tanda kemunafikan.

    Fujur Dalam Pertikaian


    Fujur adalah keluar dari kebenaran secara sengaja sehingga kebenaran ini menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Maka, sabda Rasulullah s.a.w. tentang kemunafikan: [perlu rujukan]

    "Dan apabila bertengkar (bertikai), dia melampaui batas."

    Ingkar Janji


    Sabda Rasulullah SAW:

    "Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat." [2]

    Malas Beribadah


    Firman Allah s.w.t:

    "Dan apabila mereka berdiri untuk sholat, mereka berdiri dengan malas."[3]

    Jika orang munafik pergi ke masjid atau surau, dia mudah terasa berat dan seolah-olah mahu menyeret kakinya seakan-akan terbelenggu dengan rantai. Apabila tiba di masjidatau surau, dia gemar memilih saf yang paling akhir. Dia tidak mahu mengetahui apa yang dibaca di dalam solat.

    Riya


    Di hadapan manusia dia sholat dengan khusyuk tetapi ketika seorang diri, dia mempercepat sholatnya. apabila bersama orang lain dalam suatu majlis, dia tampak zuhud dan berakhlak baik, demikian juga pembicaraannya. Namun, jika dia seorang diri, dia akan melanggar hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.[4]

    Sedikit Berzikir


    Firman Allah s.w.t.:

    "Dan apabila mereka berdiri untuk solat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan solat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." [5]

    Mempercepat Sholat


    Orang-orang munafik juga adalah orang yang mempercepatkan solat tanpa ada rasa khusyuk sedikit pun, tiada ketenangan dalam mengerjakannya, dan hanya sedikit mengingat Allah di dalamnya. Fikiran dan hatinya pula tidak menyatu. Dia tidak menghadirkan keagungan dan kebesaran Allah dalam solatnya.

    Hadith Nabi SAW:

    "Itulah sholat orang munafik, ... lalu mempercepat empat rakaat (sholatnya)"[1]

    Mencela Orang Taat dan Soleh


    Kaum munafik ini gemar memperolok orang-orang yang taat dengan ungkapan yang mengandung cemuhan dan celaan. Termasuk dalam kategori orang-orang taat di sini adalah mereka yang memiliki komitmen dalam menjalankan syari'at Allah dan Rasul-Nya, serta mereka yang berdakwah dan berjuang keras di jalan Allah (fi sabilillah). Maka, dalam setiap pertemuan sering kali kita temui orang munafik yang hanya mencela orang-orang soleh ini sebagai orang-orang yang kolot, kuno, ekstrim, fanatik, fundamentalis, dan lain-lain gelaran yang tidak menyenangkan.

    Allah berfirman di dalam al-Quran:

    "Orang-orang (munafik) yang mencela sebahagian dari orang-orang yang beriman mengenai sedekah-sedekah yang mereka berikan dengan sukarela, dan (mencela) orang-orang yang tidak dapat (mengadakan apa-apa untuk disedekahkan) kecuali sedikit sekadar kemampuannya, serta mereka mengejek-ejeknya, - Allah akan membalas ejek-ejekan mereka, dan bagi mereka (disediakan) azab seksa yang tidak terperi sakitnya." [6]

    Mepermainkan Al-Quran, As-Sunnah, dan Nabi Muhammad s.a.w.
    Kes kemunafikan ini adalah termasuk dalam kategori istihzaa' iaitu adalah memperolok-olok atau mempermainkan hal-hal yang disunnahkan Rasulullah dan amalan-amalan lainnya. Orang yang suka memperolok-olok dengan sengaja hal-hal seperti itu dianggap jatuh kafir.

    Firman Allah:

    "Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa. " [7]

    Bersumpah Palsu


    Firman Allah SWT: "Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai." (Al-Munafiqun: 2 & Al-Mujadilah: 16). Jika seseorang menanyakan kepada orang munafik tentang sesuatu, dia langsung bersumpah. Apa yang diucapkan orang munafik semata-mata untuk menutupi kedustaannya. Dia selalu mengumpat dan memfitnah orang lain. Maka jika seseorang itu menegurnya, dia segera mengelak dengan sumpahnya: "Demi Allah, sebenarnya kamu adalah orang yang paling aku sukai. Demi Allah, sesungguhnya kamu adalah sahabatku."

    Enggan Berinfak


    Orang-orang munafik memang selalu menghindari hal-hal yang menuntut pengorbanan, baik berupa harta maupun jiwa. Apabila menjumpai mereka berinfak, bersedekah, dan mendermakan hartanya, mereka lakukan kerana riya' dan sum'ah. Mereka enggan bersedekah, kerana pada hakikatnya, mereka tidak menghendaki pengorbanan harta, apalagi jiwa.[perlu rujukan]

    Tidak Menghiraukan Nasib Sesama Kaum Muslimin


    Mereka selalu menciptakan kelemahan-kelemahan dalam barisan muslimin. Inilah yang disebut At Takhdzil, yiaitu sikap meremehkan, menakut-nakuti, dan membiarkan kaum muslimin. Orang munafik percaya bahawa orang-orang kafir lebih kuat daripada kaum muslimin.

    Memperbesar Kesalahan Orang


    Orang munafik suka memperbesar sesuatu peristiwa atau kejadian. Jika ada orang yang tersilap tutur katanya secara tidak sengaja, maka si munafik ini akan memperbesarkannya dalam apabila bertemu dengan orang lain dan mengajuk kesalahan tersebut. Dia sendiri mengetahui bahawa orang itu mempunyai banyak kebaikan dan keutamaan, walau bagaimanapun, si munafik itu tidak bersedia mengungkapkannya kepada masyarakat melainkan kesilapan sahaja.

    Firman Allah s.w.t:

    "Demi sesungguhnya, jika orang-orang munafik, dan orang-orang yang ada penyakit (syak ragu-ragu) dalam hatinya, serta orang-orang yang menyebarkan berita-berita dusta di Madinah itu tidak berhenti (dari perbuatan jahat masing-masing), nescaya Kami akan mendesakmu memerangi mereka; sesudah itu mereka tidak akan tinggal berjiran denganmu di Madinah lagi melainkan sebentar sahaja."[8]

    Mengingkari Takdir


    Orang munafik selalu membantah dan tidak redha pada takdir Allah s.w.t. Maka, apabila ditimpa musibah atau ujian, dia mengatakan: "Bagaimana ini. Seandainya saya berbuat begini, nescaya akan menjadi begini." Dia pun selalu mengeluh kepada manusia lain. Hal ini jelas menunjukkan bahawa dia telah mengkufuri dan mengingkari Qadha dan Qadar.[perlu rujukan]

    Firman Allah s.w.t.:

    Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari kemurkaan Allah jika Dia mahu menimpakan bala bencana kepada kamu, atau (siapakah yang dapat menahan kemurahan Allah) jika Dia hendak memberikan rahmat kepada kamu? " Dan (ingatkanlah) mereka (yang munafik) itu: bahawa mereka tidak akan beroleh sesiapapun - yang lain dari Allah - yang akan menjadi pelindung atau penolong mereka.[9]

    Mencaci Kehormatan Orang Soleh


    Apabila orang munafik membelakangi orang-orang soleh, dia akan mencaci maki, mengejek, mengumpat, dan menjatuhkan kehormatan mereka semasa bertemu dengan orang lain.

    Allah s.w.t. berfirman:

    "Mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan." [10]

    Sering Meninggalkan Solat Berjemaah
    Apabila seseorang itu segar, kuat, mempunyai waktu yang terluang, dan tidak memiliki uzur syar'i, namun tidak mahu hadir ke masjid atau surau ketika mendengar panggilan azan, maka saksikanlah dia sebagai orang munafik. [1]

    Membuat Kerusakan Di Muka Bumi Dengan Dalih Mengadakan Perbaikan
    Orang munafik akan selalu berusaha mengadu domba dan menghamburkan fitnah di antara sesama manusia. Dia juga sering memberikan kesaksian palsu, menyebabkan pertikaian antara seseorang dan saudaranya, atau antara ayah dan anaknya, serta selalu berusaha memfitnah dan menjelek-jelekkan nama seseorang. Firman Allah SWT: "Dan apabila dikatakan kepada mereka: janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan kebaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (Al-Baqarah: 11-12).

    Tidak Sesuai Antara Zahir Dengan Bathin Secara Zahir


    Mereka membenarkan bahawa Nabi Muhammad SAW adalah Rasul Allah, tetapi di dalam hati mereka, Allah telah mendustakan kesaksian mereka. Sesungguhnya, kesaksian yang tampak benar secara Zahir itulah yang menyebabkan Mereka masuk ke dalam Neraka. Penampilan zahirnya bagus dan mempesona, tetapi di dalam batinnya terselubung niat busuk dan menghancurkan. Di luar dia menampakkan kekhusyukan, sedangkan di dalam hatinya ia main-main.

    Takut Terhadap Kejadian Apa Saja


    Orang-orang munafik selalu diliputi rasa takut. Jiwanya selalu tidak tenang, keinginannya hanya selalu mendambakan kehidupan yang tenang dan damai tanpa disibukkan oleh persoalan-persoalan hidup apapun.[perlu rujukan] Dia selalu berharap: "Tinggalkan dan biarkanlah kami dengan keadaan kami ini, semoga Allah memberikan nikmat ini kepada kami. Kami tidak ingin keadaan kami berubah." Padahal, keadaan tidaklah selalu apalagi menjadi lebih baik.

    Mengelak Dengan Alasan yang Bohong


    Firman Allah s.w.t.:

    "Di antara mereka ada orang yang berkata: 'Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.' Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Neraka Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir." [11]

    Menyuruh Kemungkaran Dan Mencegah Kemakrufan
    Mereka (orang munafik) menginginkan agar perbuatan keji tersiar di kalangan orang-orang beriman. Mereka menggembar-gemborkan tentang kemerdekaan wanita, persamaan hak, penanggalan hijab/jilbab. Mereka juga berusaha memasyarakatkan nyanyian dan konser, menyebarkan majalah-majalah porno (semi-porno) dan narkoba.

    Bakhil


    Orang-orang munafik sangat bakhil dalam masalah-masalah kebajikan. Mereka menggenggam tangan mereka dan tidak mau bersedekah atau menginfakkan sebahagian harta mereka untuk kebaikan, padahal mereka orang yang mampu dan berkecukupan.[perlu rujukan]

    Lupa Kepada Allah SWT


    Segala sesuatu selalu mereka ingat, kecuali Allah SWT. Oleh sebab itu, mereka senantiasa ingat kepada keluarganya, anak-anaknya, lagu-lagu, berbagai keinginan, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan duniawi. Dalam fikiran dan batin mereka tidak pernah terlintas untuk mengingat (berdzikir) Allah SWT, kecuali sebagai tipu daya kepada sesama manusia semata.

    Mendustakan Janji Allah Dan Rasul


    Firman Allah s.w.t.:

    "Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 'Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami selain tipu daya'." [12]

    Lebih Memperhatikan Zahir, Mengabaikan Bathin


    Orang munafik lebih mementingkan zahir dengan mengabaikan yang batin, tidak menegakkan sholat, tidak merasa diawasi Allah SWT, dan tidak mengenal zikir. Pada zahirnya, pakaian mereka demikian bagus menarik, tetapi batin mereka kosong, rusak dan lain sebaginya.

    Sombong Dalam Berbicara


    Orang-orang munafik selalu sombong dan angkuh dalam berbicara. Mereka banyak omong dan suka memfasih-fasihkan ucapan. Setiap kali berbicara, mereka akan selalu mengawalinya dengan ungkapan menakjubkan yang meyakinkan agar tampak seperti orang hebat, mulia, berwawasan luas, mengerti, berakal, dan berpendidikan. Padahal, pada hakikatnya dia tidak memiliki kemampuan apapun. Sama sekali tidak memiliki ilmu, bahkan bodoh.

    Tidak memahami masalah-masalah agama


    "Keistimewaan" orang-orang munafik adalah: mereka sama sekali tidak memahami masalah-masalah agama. Dia tahu bagaimana mengenderai mobil dan mengerti perihal mesinnya. Dia juga mengetahui hal-hal remeh dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak pernah memberi manfaat kepadanya meski juga tidak mendatangkan mudharat baginya. Akan tetapi, apabila menghadapi dialog (tanya-jawab tentang persoalan-persoalan Ad Din (Islam)), dia sama sekali tidak dapat menjawab.[perlu rujukan]

    Berpura-pura Dalam Dosa

    Watak inilah yang paling penting membedakan antara orang munafik dan orang mukmin.

    Orang munafik menganggap ringan perkara-perkara yang melawan hukum Allah, menentang-Nya dengan melakukan pelbagai kemungkaran dan kemaksiatan secara sembunyi. Akan tetapi, ketika dia berada di tengah-tengah manusia dia menunjukkan sebaliknya; iaitu berpura-pura taat.

    Firman Allah SWT:

    "Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak redhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan. " [13]

    Seseorang mukmin selalu merasa bahawa dirinya diawasi oleh Allah, baik ketika bersendirian mahupun bersama-sama orang lain. Malah, dia merasa lebih diawasi dan diperhatikan oleh Allah ketika seorang diri.

    Senang Melihat Orang Lain Susah, Susah Bila Melihat Orang lain Senang
    Orang munafik apabila mendengar berita bahawa seorang ulama yang soleh tertimpa suatu musibah, dia pun menyebarluaskan berita duka itu kepada masyarakat sambil menampakkan kesedihannya dan berkata: "Hanya Allahlah tempat memohon pertolongan. Kami telah mendengar bahawa si fulan telah tertimpa musibah begini dan begitu. Semoga Allah memberi kesabaran kepada kami dan beliau." Padahal, di dalam hatinya dia merasa senang dan terhibur karena musibah itu.[perlu rujukan]

    Rujukan

    Characteristics Of The Genuine Munafiqs
    Sahih Bukhari & Muslim
    al-Quran 4:142
    Biographical Encyclopaedia of Sufis: Central Asia and Middle East.
    al-Quran 4:142
    al-Quran 9:79
    al-Quran 9:65-66
    al-Quran 33:60
    al-Quran 33:17
    al-Quran 33:19
    al-Quran 9:49
    al-Quran 33:12
    al-Quran 4:108
    Kategori:

    Jejak Sumber : Wikipedia.com

    12 Kaum yang dibinasakan oleh Allah SWT

    Dalam Alquran, banyak sekali diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah karena mereka mengingkari utusan-Nya dan melakukan berbagai penyimpangan yang telah dilarang. Berikut adalah kaum-kaum yang dibinasakan.

    1. Kaum Nabi Nuh

    Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman hanyalah sekitar 80 orang. Kaumnya mendustakan dan memperolok-olok Nabi Nuh. Lalu, Allah mendatangkan banjir yang besar, kemudian menenggelamkan mereka yang ingkar, termasuk anak dan istri Nabi Nuh (QS Al-Ankabut : 14).

    2. Kaum Nabi Hud

    Nabi Hud diutus untuk kaum 'Ad. Mereka mendustakan kenabian Nabi Hud. Allah lalu mendatangkan angin yang dahsyat disertai dengan bunyi guruh yang menggelegar hingga mereka tertimbun pasir dan akhirnya binasa (QS Attaubah: 70, Alqamar: 18, Fushshilat: 13, Annajm: 50, Qaaf: 13).

    3. Kaum Nabi Saleh

    Nabi Saleh diutuskan Allah kepada kaum Tsamud. Nabi Saleh diberi sebuah mukjizat seekor unta betina yang keluar dari celah batu. Namun, mereka membunuh unta betina tersebut sehingga Allah menimpakan azab kepada mereka (QS ALhijr: 80, Huud: 68, Qaaf: 12).

    4. Kaum Nabi Luth

    Umat Nabi Luth terkenal dengan perbuatan menyimpang, yaitu hanya mau menikah dengan pasangan sesama jenis (homoseksual dan lesbian). Kendati sudah diberi peringatan, mereka tak mau bertobat. Allah akhirnya memberikan azab kepada mereka berupa gempa bumi yang dahsyat disertai angin kencang dan hujan batu sehingga hancurlah rumah-rumah mereka. Dan, kaum Nabi Luth ini akhirnya tertimbun di bawah reruntuhan rumah mereka sendiri (QS Alsyu'araa: 160, Annaml: 54, Alhijr: 67, Alfurqan: 38, Qaf: 12).

    5. Kaum Nabi Syuaib

    Nabi Syuaib diutuskan kepada kaum Madyan. Kaum Madyan ini dihancurkan oleh Allah karena mereka suka melakukan penipuan dan kecurangan dalam perdagangan. Bila membeli, mereka minta dilebihkan dan bila menjual selalu mengurangi. Allah pun mengazab mereka berupa hawa panas yang teramat sangat. Kendati mereka berlindung di tempat yang teduh, hal itu tak mampu melepaskan rasa panas. Akhirnya, mereka binasa (QS Attaubah: 70, Alhijr: 78, Thaaha: 40, dan Alhajj: 44).
    Selain kepada kaum Madyan, Nabi Syuaib juga diutus kepada penduduk Aikah. Mereka menyembah sebidang padang tanah yang pepohonannya sangat rimbun. Kaum ini menurut sebagian ahli tafsir disebut pula dengan penyembah hutan lebat (Aikah) (QS AlHijr: 78, Alsyu'araa: 176, Shaad: 13, Qaaf: 14).

    6. Firaun

    Kaum Bani Israil sering ditindas oleh Firaun. Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkan Firaun akan azab Allah. Namun, Firaun malah mengaku sebagai tuhan. Ia akhirnya tewas di Laut Merah dan jasadnya berhasil diselamatkan. Hingga kini masih bisa disaksikan di museum mumi di Mesir (Albaqarah: 50 dan Yunus: 92).

    7. Ashab Al-Sabt

    Mereka adalah segolongan fasik yang tinggal di Kota Eliah, Elat (Palestina). Mereka melanggar perintah Allah untuk beribadah pada hari Sabtu. Allah menguji mereka dengan memberikan ikan yang banyak pada hari Sabtu dan tidak ada ikan pada hari lainnya. Mereka meminta rasul Allah untuk mengalihkan ibadah pada hari lain, selain Sabtu. Mereka akhirnya dibinasakan dengan dilaknat Allah menjadi kera yang hina (QS Al-A'raaf: 163).

    8. Ashab Al-Rass

    Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib.
    Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Mereka menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah (Qs Alfurqan: 38 dan Qaf ayat 12).

    9. Ashab Al-Ukhdudd

    Ashab Al-Ukhdud adalah sebuah kaum yang menggali parit dan menolak beriman kepada Allah, termasuk rajanya. Sementara itu, sekelompok orang yang beriman diceburkan ke dalam parit yang telah dibakar, termasuk seorang wanita yanga tengah menggendong seorang bayi. Mereka dikutuk oleh Allah SWT (QS Alburuuj: 4-9).

    10. Ashab Al-Qaryah

    Menurut sebagian ahli tafsir, Ashab Al-Qaryah (suatu negeri) adalah penduduk Anthakiyah. Mereka mendustakan rasul-rasul yang diutus kepada mereka. Allah membinasakan mereka dengan sebuah suara yang sangat keras (QS Yaasiin: 13).

    11. Kaum Tubba'

    Tubaa' adalah nama seorang raja bangsa Himyar yang beriman. Namun, kaumnya sangat ingkar kepada Allah hingga melampaui batas. Maka, Allah menimpakan azab kepada mereka hingga binasa. Peradaban mereka sangat maju. Salah satunya adalah bendungan air (QS Addukhan: 37).

    12. Kaum Saba

    Mereka diberi berbagai kenikmatan berupa kebun-kebun yang ditumbuhi pepohonan untuk kemakmuran rakyat Saba. Karena mereka enggan beribadah kepada Allah walau sudah diperingatkan oleh Nabi Sulaiman, akhirnya Allah menghancurkan bendungan Ma'rib dengan banjir besar (Al-Arim) (QS Saba: 15-19).

    Jejak Sumber : Republika.co.id

    Drama Samadikun, Sebuah Panggung Intel Melayu

    Drama penangkapan Samadikun Hartono, dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak. Komentar pedas bahkan datang dari seorang jurnalis senior, Derek Manangka, yang menulis secara tajam mengenai hal ini.
    "Secara profesi saya tidak tahu bagaimana cara kerja intelejens atau agen rahasia. Hanya saja kalaulah film-film James Bond 007 bisa dijadikan rujukan, maka saya berani berpendapat bahwa pakem yang digunakan Sutiyoso selaku Kepala Badan Intelejens Negara (BIN) tidak sesuai teori ilmu intelejens. Bahkan lebih tepat disebut sangat aneh dan tidak berkualitas", demikian tulis Derek, Sabtu, 23 April 2016 kemarin.
    Memang, penangkapan yang dicurgai sarat kolusi dan kental upaya konsesi membuat banyak pihak bertanya, "Apa sih yang bisa dibanggakan dari penangkapan seorang Samadikun Hartono?". Pasalnya,  masih ada 33 pengemplang BLBI lain yang masih belum jelas keberadaannya.
    Selain cara bekerja yang demikian terbuka dan terkesan 'show off', publik juga bertanya, benarkah Sutiyoso, bekas Panglima Kodam Jayakarta sekaligus mantan gubernur DKI Jakartra ini pantas menjadi pimpinan badan intelejen negara yang semestinya dapat disejajarkan dengan CIA dan Mossad.
    Mengapa harus mengacu pada 2 agensi rahasia dunia itu? Sederhana saja. Dua agensi rahasia itu, CIA milik Amerika dan Mossad milik Israel, digadang-gadang sebagai yang terbaik dan disegani dunia.
    Agen CIA dan Mossad - mulai dari yang bertugas di lapangan sampai yang menjadi konseptor dari sebuah operasi intelejen, tidak pernh diketahui oleh publik. Banyak peristiwa internasional yang menarik perhatian dunia, setelah puluhan tahun terjadi baru diketahui bahwa di balik kejadian itu, berperan besar agen rahasia dari kedua negara tersebut.
    Contohnya soal peristiwa G30S/PKI yang terjadi di Indonesia di tahun 1965 dan berakibat antara lain bergantinya rezim penguasa di Indonesia. Setelah 50 tahun, CIA baru mengungkapkan keterlibatan lembaga itu melalui dokumen resmi. Dan pengungkapan itu bukan karena kepentingan pribadi, melainkan karena kewajiban memenuhi Undang-Undang. Kewajiban untuk membuka kepada publik, semua peristiwa yang dinyatakan rahasia, setelah 50 tahun! Andai tak ada kewajiban tersebut, maka niscaya hingga hari ini, publik tidak akan mengetahui dalang di balik peristiwa tersebut. Jadi selama lima dekade itu tidak satupun agen CIA yang pernah mengklaim jasanya.
    Persoalan menyimpan rahasia ini, menurut Derek Manangka lagi, sangat kontras dengan klaim Kepala BIN Sutiyoso dalam peranan lembaganya menangkap Samadikun Hartono.
    "Maaf, baru menangkap Samadikun sudah merasa paling berjasa di republik", kritik Derek lagi.
    Derek menilai, pekerjaan atau keberhasilan menangkap pelarian BLBI akan pantas dinilai hebat, kalau Sutiyoso melakukannya dalam kapasitas sebagai Gubernur DKI.
    Derek mencontohkan, dalam peristiwa  pembebasan sandera Israel yang ditahan oleh rezim Idi Amin di Entebbe, Uganda pada 4 Juli 1976,  tidak sedikit pun pemimpin Mossad menggembar-gemborkan peranannya. Padahal yang dilakukannya - dari segi materi tidak bisa dinilai dengan uang. Berapapun besarnya. Sebab pembebasan itu menyelamatkan ratusan nyawa manusia.
    Samadikun Hartono, bukanlah buronan kakap. Ditambah lagi kerugian yang disebabkannya masih terlalu kecil dibandingkan dengan biaya penangkapan dan "penyambutan"nya.
    Derek mengibaratkan, Samadikun adalah maling ayam yang untuk menangkapnya perlu mengerahkan satu kompi pasukan elit dari TNI dan Polri.
    Kisah ini menjadi semakin kontras dan memuakkan bila disandingkan dengan proses penangkapan ulama Abu Bakar Ba'asyir atau puluhan muslim yang diduga melakukan tindak terorisme. Mereka diperlakukan bak pesakitan bahkan tak segan nyawa mereka berakhir tanpa sempat melakukan perlawanan.
    Tapi apapun ceriteranya, cara Kepala BIN mengekspos keberhasilan lembaga itu, cukup mendegradasi peran dan citra lembaga intelejen negara kita. Seandainya Samadikun adalah awak kapal yang disandera Abu Shayaf dan berhasil dibebaskan oleh agen rahasia Indonesa  wajarlah bila Sutiyoso menepuk dada dan memanfaatkan hal tersebut sebagai sebuah panggung eksistensi.
    Tapi bila hal tersebut terjadipun, maka panggung itu tersedia hanya sebatas ajang pencitraan BIN sebagai lembaga, bukan panggung untuk Sutiyoso sebagai pribadi.

     

    Jejak Sumber : Portaliyungan.com

    Deddy Mizwar Pertanyakan Sumber Asal Material Reklamasi Jakarta

    Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menjelaskan, rencana reklamasi pantai di DKI Jakarta merupakan contoh lain lemahnya pengawasan dan penegakkan hukum lingkungan. Meski megaproyek tersebut ditunda sementara, dia menjelaskan, berbagai bahan material yang telah didatangkan sangat diragukan legalitas dan kelayakannya.

    "Kemarin dibuktikan Menteri KLH (Kementerian Lingkungan Hidup), enggak ada dokumen batu itu dari mana," katanya di Bandung, Jawa Barat, Ahad (24/4).

    Dikatakan Deddy, Pemprov Jabar maupun kabupaten/kota di Jabar yang kaya akan material alam harus mengantisipasi hal ini sebaik mungkin. Antisipasi dapat dilakukan dengan mencegah manipulasi dokumen. Dia pun menyayangkan praktik haram tersebut sudah terjadi dari hulu hingga hilir di pantai utara reklamasi. Dari Suap, penggelapan pajak, hingga manipulasi dokumen.

    "Reklamasi dibangun atas dasar maksiat dari segi penambangan. Janganlah seperti itu. Bangunlah sebuah peradaban atas dasar kejujuran," katanya.

    Oleh karena itu, kata dia, tidaklah heran jika saat ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun masuk untuk mengusut kejahatan lingkungan tersebut. "Sekarang kan pertambangan ada KPK. Apakah akan tetap jebol? Saya enggak tahu. KPK masuk ke (kasus) kehutanan, perkebunan, perikanan, kelautan, dan pertambangan," katanya. N Arie

    Jejak Sumber : Republika.co.id

    Soal Temuan Dua Juta Muslim Murtad, Begini Kata Kemenag

    Muslim Indonesia berjumlah 73 persen dari seluruh penduduk yang ada. Tahun 1950 presentase umat muslim sebanyak 99 persen kemudian menurun hingga setelah reformasi.

    Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenag Abdul Rahman Mas'ud mengatakan pihaknya akan mempelajari temuan Irjen Pol (Purn) Anton Tabah terkait dua juta umat Islam yang murtad tiap tahun. Rahman mengaku, Kemenag hingga saat ini belum memiliki data seperti itu.

    "Bisa kita agendakan penelitian terkait masalah itu, saya akan minta pusat kehidupan keagamaan untuk mengkaji dulu," ujar dia dalam pesan singkat kepada Republika.co.id, Ahad (24/4).

    Sebelumnya Anggota Komisi HUkum dan HAM Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Anton Tabah mengatakan kristenisasi terpesat di dunia ada di Indonesia. Selain itu, Indonesia juga termasuk negara Muslim dengan angka pemurtadan terbesar. Berdasarkan catatan MUI, sebanyak dua juta orang murtad setiap tahunnya.

    "Perkembangan kristen tepesat di dunia ada di Indonesia. 140 persen selama lima tahun. dan pemurtadan besar-besaran muslim ada di negara muslim terbesar di duni, Indonesia. Dua juta pertahun murtad," ujar Anton saat menghadiri soft launching Badan Koordinasi Penanggulangan Penodaan Agama (Bakorpa) di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (15/4).

    Anton juga menjelaskan presentase penduduk muslim saat ini mengalami penurunan. Menurut data yang dilansir, 

    Jejak Sumber : Republika.co.id

    Autopsi Siyono: Antara Kontraksi Polri dan BNPT

    Hasil otopsinya menjadi fakta empirik tidak terbantahkan terjadinya aksi brutal Densus 88 terhadap Siyono bahkan "Siyono" lainya

    PASCA hasil autopsi jenazah Siyono diumumkan oleh Komnas HAM bersama Tim Dokter Forensik PP Muhammadiyah akhirnya melahirkan kontraksi (baca kegoncangan) dari pihak Polri dan BNPT dengan beragam statemen yang tampak tidak seragam.

    Intinya bersikukuh bahwa aparat Detasemen Khusus Antiteror (Densus) 88 tidak melakukan tindak kriminal terhadap Siyono. Sedikit asumsi yang diungkapkan bahwa Densus 88 mungkin hanya menyalahi kode etik, bahkan rencana akan digelar sidang kode etik secara terbuka.

    Inilah Hasil Autopsi Penyebab Utama Kematian Siyono

    Di sisi lain justru yang paling krusial adalah penolakan terhadap hasil autopsi. Notabene autopsi itu dilakukan oleh para dokter forensik senior dan profesional dengan disaksikan seorang dokter forensik dari pihak Polri.

    Publik menyaksikan hari ini; Kejujuran, transparasi, obyektifitas, akuntanbilitas Polri dan BNPT dari kasus Siyono betul-betul diuji.

    Publik sudah lama memendam beragam pertanyaan terkait ‘proyek pemerintah’ di sektor keamanan yang bernama ‘kontra terorisme dan kontra radikalisme’. Kasus Siyono menjadi momentum bagi publik untuk sedikit melihat tentang apa yang sesungguhnya terjadi.

    Din Syamsudin Yakin Program Deradikalisasi adalah Proyek Amerika Serikat

    Belajar dari kasus Siyono bisa kita buatkan rangkuman catatan penting singkat sebagai berikut:

    Pertama, kasus Siyono adalah puncak gunung es dari “Siyono-Siyono” lainnya.Melahirkan titik tolak kesadaran masyarakat bahwa soal kejahatan negara lewat instrumennya (Polisi/Densus/BNPT) bisa saja terjadi.

    Kedua, Hasil otopsinya menjadi fakta empirik tidak terbantahkan terjadinya aksi brutal Densus 88 terhadap Siyono bahkan “Siyono” lainya. Aksi overacting yang menabrak semua mekanisme hukum yang ada. Langkah excessive force (penggunaan kekuatan berlebihan) dalam proyek kontra terorisme yang justru potensial melahirkan blunder persoalan.

    Ketiga, Negara tidak boleh hadir menjadi state terrorism terhadap warganya dengan alasan apapun.

    Ketiga, dan publik juga tidak boleh bisu/buta/tuli atas tiap jengkal kedzaliman yang demonstratif kecuali dirinya menjadi bagian dari aktor-aktor kedzaliman.*

    Pengamat Terorisme & Dir CIIA

    Rep: Admin Hidcom - Editor: Cholis Akbar

    Jejak Sumber : Hidayatullah.com